Hati yang Selalu Bahagia

(Setelah menceritakan berita bagus yang didapat pada hari ini kepada seorang teman)

Teman: Wah, pasti hati lu lagi bahagia banget kan sekarang?

Gw: Ah hati gw mah selalu bahagia kok

Teman: Asyik ya, gw berharap bisa punya hati yang kayak lu.

7 bulan sudah.

Hari ini ada sebuah cerita yang ingin dibagikan, didedikasikan untuk betapa uniknya kamis ini.

Apakah iya hati kita harus kita paksa untuk membedakan waktunya bahagia dan tidak? Ga bisa ya kita bahagia setiap saat? Bukan gila ya maksudnya..

Dalam sebuah khotbah di salah satu Hari Minggu, pernah dikatakan bahwa kita itu bisa kok berbahagia setiap saat. Ga perlu tuh kita harus kaya dulu, harus sukses dulu, poinnya cuma mensyukuri apa yang ada di sekitar kita setiap saat, karena pasti ada yang bisa kita dapatkan kalau kita berani melihat diri kita saat ini, alih-alih mengingat masa lalu yang penuh dengan penyesalan atau masa depan yang masih tidak jelas.

Lanjutkan membaca “Hati yang Selalu Bahagia”

Bukit Moko: dekat, tapi jauh, tapi dekat!

Luar biasa!

Kok bisa ya selama ini tidak menulis?

Sekitar 3 bulan sudah, berlalu, dari terakhir menggoreskan garis-garis hitam di layar pembaca melalui blog ini. Untung beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja membuka blog ini lagi dan langsung diingatkan akan betapa menyenangkannya menulis dan berbagi pengalaman, apalagi memang ada banyak sekali yang ingin dibagikan.

Oke, langsung saja, selamat menikmati.

Yap, sesuai dengan post terakhir di rangkaian cerita KBR, perjalanan Tempe, Koya, dan Mihe belum dan tidak pernah berakhir. Nah, sekarang permasalahannya tentu saja: waktu. Berhubung Tempe, Koya, dan Mihe mulai harus mengadu nasib demi sesuap nasi di jalurnya masing-masing, untuk melanjutkan perjalanan ini akhirnya harus curi-curi waktu di akhir pekan. Dan lagi, dengan waktu yang sempit, mereka harus realistis dalam menentukan tujuan berkeliling. Tapi tentu saja, tujuan keliling, manapun, tetap harus didasarkan pada request alias permintaan.

Dan uniknya, Koya dan Mihe kompak meminta untuk mengunjungi Bukit Moko, sementara Tempe belum pernah dengar Apaan dan dimana tuh bukit?

Lanjutkan membaca “Bukit Moko: dekat, tapi jauh, tapi dekat!”