They Come When You Least Expect It

They Come When You Least Expect It

Masih terkait.. dengan post sebelumnya, ada sebuah pengalaman sederhana lain yang ingin dibagikan.

Masih terkait.. dengan travelling, tujuan, dan kali ini berhubungan dengan bintang.


Selain sunrise-fail-hunter, kini Tempe merupakan seorang star-gazer-wannabe. Tetapi yang disesalkan, walau menyandang gelar tersebut, adalah: setelah menggoda dengan begitu indahnya di Belitung, tak sekalipun dari sekian kali percobaan Tempe berhasil berhadapan dengan taburan bintang di angkasa. Bahkan, sekalinya pernah ia mencoba mengikuti jalur darat sepanjang pantura, tak pelak juga dapatkan langit yang cerah.

Tak apalah, pasti ada waktunya.

Lanjutkan membaca “They Come When You Least Expect It”

Malang – Part 3: Batu yang lebih berkilau daripada Berlian

Malang – Part 3: Batu yang lebih berkilau daripada Berlian

(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Lampu gemerlap kota Malang terlihat jelas dari atas sepeda udara, membuat mereka bertiga berharap wahana yang satu ini takkan pernah berakhir. Tapi kasihan si Mihe, lama-lama bisa puyeng dia keasyikan dugem di tengah dinginnya BNS. Ngomong-ngomong, lagunya sepeda udara ini kenapa metal banget yak. (mengacu ke video di post sebelumnya)

Asik banget tadi lo di atas bisa dugem,’ sahut Tempe kepada Mihe sambil ketawa-ketawa menyindir,

Ini semua gara-gara kalian!’ tiba-tiba Mihe berteriak sambil menunjukkan emosi marah. Kontan saja Tempe dan Koya kebingungan, apa salah kami?

Tak disangka, si Mihe pun kebingungan kenapa lampu sepedanya kedap-kedip sendiri. Menurutnya, semua kontrol ada di sepeda yang di depan, yang ditumpangi Koya dan Tempe. Di dekat setir sepeda Tempe dan Koya terdapat beberapa tombol yang tidak jelas fungsinya apa. Selama perjalanan, kerjaan mereka adalah asal-asal pencet tombol-tombol gak jelas itu. Ternyata oh ternyata, itu adalah pengendali lampu dan lagu yang ada di sepeda udara. Sayangnya, mereka baru sadar setelah turun. Maaf ya Mihe, tapi asyik juga kan?

Sambil terbayang pemandangan indah Kota Malang dari kejauhan, penjelajahan BNS kembali dilanjutkan.

Lanjutkan membaca “Malang – Part 3: Batu yang lebih berkilau daripada Berlian”

Malang – Part 1: Udang di balik Batu

(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Biasanya Tempe adalah pria sejati yang mudah move on, tapi tidak kali ini. Selama berjalan ke stasiun, yang ada di benaknya cuma Tempe Goreng… Tempe Goreng… Mihe dan Koya pun cuma bisa menepuk pundaknya sesekali, mencoba membantu meringankan beban yang begitu berat karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.

So long, tempe goreng.. (mengusap air mata, melambaikan sapu tangan)

Mari kita sambut Malang!

Lanjutkan membaca “Malang – Part 1: Udang di balik Batu”

Menuju Jawa: Mengasah Hati, Meraut Semangat

(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Mari memulai kisah panjang ini dengan kutipan berikut:

Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal.

Yap, post pertama ini akan berbicara mengenai perencanaan yang dilakukan sebelum eksekusi perjalanan sesungguhnya. Jalan-jalan santai bukan berarti tanpa persiapan, kan? Justru karena Tempe, Mihe, dan Koya sendiri memiliki jam terbang yang tidak banyak perihal travelling, mereka mencoba mendaftarkan semuanya mulai dari A sampai Z.

Lanjutkan membaca “Menuju Jawa: Mengasah Hati, Meraut Semangat”