Mencari Emma Stone di Stone Garden

Mencari Emma Stone di Stone Garden

Sekitar 2 hari yang lalu, sambil menikmati segunung makanan di tumpukan piring yang ada di depan mata, seperti biasa ada sedikit basa-basi dengan teman-teman yang juga sedang berusaha mengisi perut. Salah satu pembicaraan yang paling menarik kebetulan membahas mengenai travelling. Jalan-jalan bukan sembarang jalan-jalan yang dibicarakan, tapi mengungkit mengenai New Zealand dan Swiss, sebagai 2 negara paling bagus menurut salah satu kontestan di meja makan tersebut.

Tidak, post kali ini tidak ingin menceritakan perjalanan ke New Zealand ataupun Swiss, I wish, tetapi karena tiba-tiba salah seorang teman yang memang mengetahui bahwa gw baru saja “travelling”, menanyakan:

“Bukannya lu abis jalan-jalan juga? Ke mana?”

“Ke Cianjur..”

“Jadi naik motor?”

“Jadi donk..”

Seketika itu juga pernyataan-pernyataan keheranan bermunculan, kata-kata seperti “gila”, “ga jelas”, dan salah satu yang juga terdengar: “kurang kerjaan”.

Kurang kerjaan?

Di luar sana, ada banyak sekali hal-hal sederhana yang bisa dinikmati, dan tidak kalah banyaknya cara untuk menikmati itu semua. Setiap orang punya caranya masing-masing. Ada yang baru bisa menikmati travelling kalau tujuan perginya New Zealand, atau Swiss. Tetapi ada juga yang menikmati perjalanan sesederhana naik motor ke Cianjur.

Don’t judge.

Inilah sebuah perjalanan kurang kerjaan yang membuat badan remuk.

walau cuma 2 hari tapi sepertinya tetap sulit dibungkus dalam 1 tulisan saja…

Enjoy.

Lanjutkan membaca “Mencari Emma Stone di Stone Garden”

Tebing Keraton a.k.a. Tebing Sosmed

Akhirnya bisa bersua lagi.

Masih segar dalam ingatan, jadi baiknya segera dituangkan dalam cerita. Ingatan ini adalah tentang sebuah perjalanan singkat ke Tebing Keraton, tepatnya pada Sabtu subuh, 6 Desember 2014. Tentu saja kita akan tetap ditemani oleh 3 pemeran utama: Tempe, Mihe, dan Koya.

Tujuan perjalanan ini seperti biasa adalah: Mengejar Matahari! 

Tebing Keraton: Mengejar Matahari
Takkan lari matahari dikejar, ngumpet sih iya.

Sebetulnya sudah lama sekali tebing keraton ini ada dalam agenda mereka bertiga, apa daya kini mereka harus mencari sebongkah nasi dan lauk. Dan juga khusus Koya, mengais sepiring gorengan.

Sehubungan dengan target, agenda pertama adalah untuk memeriksa Kapan sih abang matahari akan menunjukkan batang hidungnya?

Lanjutkan membaca “Tebing Keraton a.k.a. Tebing Sosmed”

Bukit Moko: dekat, tapi jauh, tapi dekat!

Luar biasa!

Kok bisa ya selama ini tidak menulis?

Sekitar 3 bulan sudah, berlalu, dari terakhir menggoreskan garis-garis hitam di layar pembaca melalui blog ini. Untung beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja membuka blog ini lagi dan langsung diingatkan akan betapa menyenangkannya menulis dan berbagi pengalaman, apalagi memang ada banyak sekali yang ingin dibagikan.

Oke, langsung saja, selamat menikmati.

Yap, sesuai dengan post terakhir di rangkaian cerita KBR, perjalanan Tempe, Koya, dan Mihe belum dan tidak pernah berakhir. Nah, sekarang permasalahannya tentu saja: waktu. Berhubung Tempe, Koya, dan Mihe mulai harus mengadu nasib demi sesuap nasi di jalurnya masing-masing, untuk melanjutkan perjalanan ini akhirnya harus curi-curi waktu di akhir pekan. Dan lagi, dengan waktu yang sempit, mereka harus realistis dalam menentukan tujuan berkeliling. Tapi tentu saja, tujuan keliling, manapun, tetap harus didasarkan pada request alias permintaan.

Dan uniknya, Koya dan Mihe kompak meminta untuk mengunjungi Bukit Moko, sementara Tempe belum pernah dengar Apaan dan dimana tuh bukit?

Lanjutkan membaca “Bukit Moko: dekat, tapi jauh, tapi dekat!”

Bandung: Semua ada awalnya

(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

I can’t tell where the journey will end

But I know where to start

Wake me up / Avicii

Pada akhirnya sampai juga di post pertama yang benar-benar menuliskan tentang apaan sih yang mereka lakukan?

Tentu saja Tempe, Koya, dan Mihe tidak tiba-tiba *tring* nongol di Jogja, oleh sebab itu, ada baiknya cerita dimulai dari perjalanan menuju Jogja.

Lanjutkan membaca “Bandung: Semua ada awalnya”