5D.2: Motor Legendaris

Halo, namaku Tori. Biarpun aku terlihat dekil dan badanku kurus, kemampuanku tidak boleh diremehkan. Coba tanya Johar, kami berdua sudah melalui banyak hal bersama. Mulai dari pengalaman pahit sampai… kayaknya, pahit semua pengalamannya. Biarpun begitu, hobiku tetap sama sampai sekarang, jalan bareng Johar menelusuri Bandung.

Belakangan ini, kita sudah jarang jalan bareng, padahal dulu hampir tiap hari. Mungkin dia sudah mulai lupa. Kini body seksiku sudah mulai usang akibat dicampakkan berhari-hari di kosan. Sedih sih, pengin nangis rasanya. Tapi nanti Johar makin ilfeel sama aku. Terus aku makin dijauhin. Makin cyedih akika… hiks.

Lanjutkan membaca “5D.2: Motor Legendaris”

5D.1: Ngegas Penyambung Nyawa

Dalam sebuah acara ngerjain orang, salah satu tantangan meminta para peserta untuk menelpon salah seorang teman mereka. Tapi harus teman yang paling bisa diandalkan, karena orang tersebut akan ditelepon secara tiba-tiba. Lebih tepatnya dibikin panik. Peserta akan berpura-pura sedang dalam keadaan darurat dan si sahabat mesti segera datang ke lokasi yang diminta tanpa dijelaskan apa-apa. Ga tanggung-tanggung, teleponnya jam 2 pagi. Peserta yang sahabatnya ga datang dalam jangka waktu 30 menit akan kena hukuman.

Kalau ada di posisi peserta, kira-kira siapa yang akan kalian telepon?

Untuk Yoyok, kasus seperti ini bukanlah sekadar skenario dalam acara ngerjain orang. Nyawanya pernah terancam jam 3 pagi dan seorang teman yang beruntung ikut kena imbasnya.

Lanjutkan membaca “5D.1: Ngegas Penyambung Nyawa”
Istimewa

5D.0: Perulatan Batin

Kapan tepatnya seorang teman berubah menjadi sahabat? Pertanyaan tersebut merupakan salah satu misteri paling membingungkan dari berbagai jenis evolusi yang ada di dunia ini. Bisa jadi ada satu momen tertentu atau kumpulan dari banyak momen. Apakah karena pernah susah dan senang bersama? Entahlah. Momen apapun itu, yang pasti kita setuju betapa berharganya cerita dan sahabat yang kita dapat.

Kata Sind3ntosca, grup musik beranggotakan satu orang yang sekarang ga tahu di mana, persahabatan itu bagaikan kepompong. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah. Persahabatan bagai kepompong, na na na… loh kok jadi nyanyi.

Betapa luar biasanya persahabatan bisa mengubah sekumpulan ulat menjadi kupu-kupu. Yang awalnya nongkrong bareng sambil menggerogoti daun, bisa pindah hinggap di bunga yang indah. Mungkin itu maksudnya yang tak mudah berubah jadi indah. Waktu lagi nongkrong di bunga, sesekali seekor kupu-kupu nyeletuk “eh pu, inget ga dulu kita pernah makan daun singkong bareng enak banget?”. Dijawab oleh sahabatnya, “ingetlah! bukan cuma daun singkongnya yang enak, rendang ama parunya juga mantep!”. Lah, ini kupu-kupu apaan makannya di restoran padang.

Kumpulan cerita berikut ini merupakan sebuah perayaan dari persahabatan lima jentik ulat. Eh, apa sih satuannya ulat? Kan ulat ga punya ekor ya. Ya apapun itu lah, anggap aja lima helai ulat yang dipertemukan secara tidak sengaja. Memang namanya persahabatan itu biasanya ga sengaja sih. Kalau cinta masih ada cinta pada pandangan pertama, kalau sahabat pada pandangan pertama malah aneh. Masa tiba-tiba kita terpikir: ini orang bulu hidungnya kayak bro banget sama bulu ketek gue.

Entah di bagian mana atau cerita yang mana tepatnya ketika lima biji ulat ini berubah menjadi kupu-kupu. Memang waktu berlalu cepat ketika kita asyik menggerogoti daun singkong. Begitu tersadar, masing-masing sudah sibuk mengepakkan sayap dan berterbangan ke arah yang berbeda-beda.

Baca cerita mereka mulai dari sini: Ngegas Penyambung Nyawa

Mencari Emma Stone di Stone Garden

Mencari Emma Stone di Stone Garden

Sekitar 2 hari yang lalu, sambil menikmati segunung makanan di tumpukan piring yang ada di depan mata, seperti biasa ada sedikit basa-basi dengan teman-teman yang juga sedang berusaha mengisi perut. Salah satu pembicaraan yang paling menarik kebetulan membahas mengenai travelling. Jalan-jalan bukan sembarang jalan-jalan yang dibicarakan, tapi mengungkit mengenai New Zealand dan Swiss, sebagai 2 negara paling bagus menurut salah satu kontestan di meja makan tersebut.

Tidak, post kali ini tidak ingin menceritakan perjalanan ke New Zealand ataupun Swiss, I wish, tetapi karena tiba-tiba salah seorang teman yang memang mengetahui bahwa gw baru saja “travelling”, menanyakan:

“Bukannya lu abis jalan-jalan juga? Ke mana?”

“Ke Cianjur..”

“Jadi naik motor?”

“Jadi donk..”

Seketika itu juga pernyataan-pernyataan keheranan bermunculan, kata-kata seperti “gila”, “ga jelas”, dan salah satu yang juga terdengar: “kurang kerjaan”.

Kurang kerjaan?

Di luar sana, ada banyak sekali hal-hal sederhana yang bisa dinikmati, dan tidak kalah banyaknya cara untuk menikmati itu semua. Setiap orang punya caranya masing-masing. Ada yang baru bisa menikmati travelling kalau tujuan perginya New Zealand, atau Swiss. Tetapi ada juga yang menikmati perjalanan sesederhana naik motor ke Cianjur.

Don’t judge.

Inilah sebuah perjalanan kurang kerjaan yang membuat badan remuk.

walau cuma 2 hari tapi sepertinya tetap sulit dibungkus dalam 1 tulisan saja…

Enjoy.

Lanjutkan membaca “Mencari Emma Stone di Stone Garden”

Tebing Keraton a.k.a. Tebing Sosmed

Akhirnya bisa bersua lagi.

Masih segar dalam ingatan, jadi baiknya segera dituangkan dalam cerita. Ingatan ini adalah tentang sebuah perjalanan singkat ke Tebing Keraton, tepatnya pada Sabtu subuh, 6 Desember 2014. Tentu saja kita akan tetap ditemani oleh 3 pemeran utama: Tempe, Mihe, dan Koya.

Tujuan perjalanan ini seperti biasa adalah: Mengejar Matahari! 

Tebing Keraton: Mengejar Matahari
Takkan lari matahari dikejar, ngumpet sih iya.

Sebetulnya sudah lama sekali tebing keraton ini ada dalam agenda mereka bertiga, apa daya kini mereka harus mencari sebongkah nasi dan lauk. Dan juga khusus Koya, mengais sepiring gorengan.

Sehubungan dengan target, agenda pertama adalah untuk memeriksa Kapan sih abang matahari akan menunjukkan batang hidungnya?

Lanjutkan membaca “Tebing Keraton a.k.a. Tebing Sosmed”