Grandpa Berlin, Part 1

Grandpa Berlin, Part 1

Me: *di tengah bercerita pengalaman jalan-jalan* kenapa ya kayaknya langit di sana itu beda deh daripada di sini?

A friend: beda apanya? Kayaknya sama-sama aja?

Me: apa sama aja ya cuma karena suasana bangunan-bangunannya aja? Entahlah, yang pasti salah satu yang paling berkesan itu banyak trail pesawat di langit yang keliatan.

A friend: waktu gw kesana, gw ga ngeliatin langit sih, ngapain… Tapi menurut gw sih sama aja.

Me: mungkin sih…

Satu Cahaya Langit Eropa
Beda kok, makanya sampe dibikin filmnya kan “cahaya di langit eropa”?

Lanjutkan membaca “Grandpa Berlin, Part 1”

YULT Amsterdam – Day 2…

YULT Amsterdam – Day 2…

… Well, not really, this one supposed to be titled “YULT Keukenhof”, but whatever.

Rasanya sungguh bahagia ketika tulisan kita mendapatkan respon yang positif, apalagi setelah lama tidak berkesempatan untuk menceritakan perjalanan “ya udahlah ya” ini.

Oh ya, ada beberapa teman (sebetulnya hanya 2) yang kebingungan kenapa namanya harus Tempe, ga ada yang bagusan dikit apa? Kata mereka.

Yah, jika alasan “Tempe itu sehat, enak, dan merakyat” tidak cukup bagi kalian, ini ada paparan lengkap mengenai asal usul si Tempe, kalau tertarik bisa iseng baca sebentar: KBR Jogja – Part 3

Next ride please!


Amsterdam – Day 2

Pemanasan sebelum ke tempat aslinya.
Pemanasan sebelum ke tempat aslinya.

Belum ke belanda kalau belum ke Keukenhof. Dari awal memang komplotan bertiga: Tempe, Pong, dan Sung sudah sengaja memilih tanggal yang tepat dengan diadakannya event keukenhof. Tapi beneran kok, tujuan utamanya tetep mengunjungi si Mr. Chow, sungguh…

Sayangnya, terkadang teman hanyalah sekedar teman. *mengusap air mata *buang ingus

walaupun sudah ditempuh jarak beribu-ribu mil, orang yang ingin dikunjungi justru memilih untuk tidak menemani tamu-tamunya pergi ke taman bunga. Baiklah, tak apa, pikir Tempe. Mending kita cari teman baru disana… *sisiran

Pagi hari, suasana sudah gundah gulana. Apa daya, oom-nya Sung yang berbaik hati berencana untuk mengantar ternyata sedang tidak fit. Sibuk mencari-cari bagaimana memanfaatkan angkutan umum untuk bisa sampai disana, tapi sepertinya makan waktu. Aduh, pusing pala barbi…

Teman memang sekedar teman, tetapi oom adalah oom. Walaupun kondisinya tidak prima, beliau tetap bersedia mengantarkan 3 orang tak berdaya ini yang tengah gegulingan di lantai karena tidak tau bagaimana ke keukenhof. Memang benar kata-kata keluarga cemara: harta yang paling berharga, adalah, Oom… 

Lanjutkan membaca “YULT Amsterdam – Day 2…”

YULT Amsterday – Day 1

YULT Amsterday – Day 1

Better late than never…

Tampaknya cerita ini terlalu sulit untuk dituliskan di blog karena begitu banyak yang bisa diceritakan. Kalau misalnya harus dituliskan semua-muanya yang ingin ditulis, maka jadilah ini sebuah novel yang tidak akan pernah ada yang baca.

Namun, walaupun sudah berkata demikian, belakangan ini beberapa teman yang memang mengetahui bahwa saya sempat berkunjung ke benua biru justru menanyakan secara lengkap itinerary saya. Dan itu kembali membangkitkan motivasi awal saya menulis di blog ini: membantu, karena sudah banyak terbantu.

So, let’s continue the story.

Lanjutkan membaca “YULT Amsterday – Day 1”

YULT Schipol: Salam hangat!

Nanti begitu naik pesawat, gw mau nonton satu… dua… film dulu terus tidur ah. 

Begitulah terdengar suara-suara dari arah Sung.

Tetapi nyatanya?

Boarding, cari tempat duduk, taroh tas di cabin, duduk, mulut menganga, mata terpejam, take off.

Wajar saja, justru Tempe dan Pong menjadi yakin kalau yang duduk di bersama mereka saat ini adalah Sung yang sebenarnya.

Dengan begini, sekitar pukul 12 malam waktu setempat, pesawat lepas landas.

Dimulailah perjalanan mereka.

Lanjutkan membaca “YULT Schipol: Salam hangat!”