Jaminan Hari Fana

56 begitu spesial belakangan ini. Angka ini disebut di berbagai media massa berulang kali, setiap membahas perubahan baru aturan penarikan iuran Jaminan Hari Tua (JHT) oleh Menaker. Uang yang sebelumnya bisa didapat bahkan ketika mengundurkan diri dari pekerjaan atau di-PHK, kini harus mengendap sampai umur kita mencapai angka magis 56.

Banyak yang protes, terutama kelas pekerja. Sejauh yang saya pahami, argumen yang seringkali dilontarkan adalah urgensi. Ketika baru kehilangan pekerjaan dan belum mendapat yang baru, uang JHT bisa menjadi penyangga sementara. Pemerintah menjawab argumen ini melalui dua poin. Pertama, ada jaminan baru namanya Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) sebagai gantinya. Kedua, bermain epistemologi: namanya aja Jaminan Hari Tua, ya baru bisa diambil saat sudah tua. Menurut saya, semua argumen dan jawaban tersebut salah sasaran. Masalah utama dari JHT adalah sifatnya yang wajib.

Lanjutkan membaca “Jaminan Hari Fana”

Demam Panggung Sandiwara

Dunia ini, panggung sandiwara. Begitu kata Nicky Astria. Dan layaknya panggung pertunjukkan lainnya, ada demam yang bisa menghampiri saat kita sedang tampil. Setelah menghidupi 15 tahun pertama hidup tanpa menyadari kehadiran demam tersebut, berikut pengalaman yang akhirnya membuka mata saya.

Sejak kecil, saya cinta mati dengan sepak bola. Tiada hari tanpa bermain sepak bola, apalagi setelah terinspirasi oleh Captain Tsubasa. Karena sudah akrab dengan sepak bola sejak kecil, saya termasuk mahir dalam mengolah permainan ini. Walaupun bukan di lapangan hijau, karena 90% sepak bola yang saya mainkan beralaskan aspal jalanan dengan selokan sebagai batas lapangannya. Rasanya, kalau bermain sepak bola, saya bisa mengekspresikan diri sepenuhnya.

Lanjutkan membaca “Demam Panggung Sandiwara”

Mulutmu, Malaikatmu.

Mulutmu, Malaikatmu.

Ada sebuah cerita unik pada perjalanan saya ke sebuah kota di Belanda bersama dengan dua orang teman bulan lalu. Pada saat kami sedang asik menikmati hidangan makan siang, salah satu teman tiba-tiba menuturkan bahwa ada seorang kenalannya yang sepertinya baru saja lewat. Uniknya, kenalan ini ia “temui” pada sebuah aplikasi pencari jodoh, jadi ada nuansa berbeda dari ketidaksengajaan tersebut. Diiringi dengan cerita lebih lengkap mengenai pertemuan mereka berdua, kami melanjutkan perjalanan kami dengan biasa saja.

Lanjutkan membaca “Mulutmu, Malaikatmu.”

Jati Diri

Jati Diri

Jika tiga bulan lalu ada yang berkelakar bahwa dunia akan mengalami resesi dan tatanan dunia akan berubah drastis, saya mungkin akan menertawai orang tersebut. Era 2010-an bagaikan sebuah bulan madu bagi umat manusia. Ekonomi berkembang jor-joran akibat revolusi teknologi dan pelancong bisa melanglangbuana ke sudut-sudut dunia. Siapa gerangan yang mengira bahwa semua itu akan menghilang begitu saja?

Lanjutkan membaca “Jati Diri”

Kenapa Takut Sekali dengan Bosan?

Karantina itu menyenangkan. Ha? Siapa ya yang kira-kira berpikir begitu?

Beberapa minggu terakhir, dunia disibukkan dengan anjuran jangan keluar rumah. Buat saya, ini anjuran yang tidak terlalu berdampak, berhubung biasanya juga mager untuk keluar rumah. Namun tidak demikian bagi semua orang. Nyatanya, ada yang menghadapi rutinitas seperti ini pertama kali dalam hidup mereka. Kebiasaan nongkrong di warung kopi atau cekakak-cekikik di restoran bersama teman sudah menghiasi sejak sepanjang hidup orang-orang ini. Begitu “kebebasan” itu direnggut, stress lah pikiran.

Lanjutkan membaca “Kenapa Takut Sekali dengan Bosan?”