Jati Diri

Jati Diri

Jika tiga bulan lalu ada yang berkelakar bahwa dunia akan mengalami resesi dan tatanan dunia akan berubah drastis, saya mungkin akan menertawai orang tersebut. Era 2010-an bagaikan sebuah bulan madu bagi umat manusia. Ekonomi berkembang jor-joran akibat revolusi teknologi dan pelancong bisa melanglangbuana ke sudut-sudut dunia. Siapa gerangan yang mengira bahwa semua itu akan menghilang begitu saja?

Lanjutkan membaca “Jati Diri”

Kenapa Takut Sekali dengan Bosan?

Karantina itu menyenangkan. Ha? Siapa ya yang kira-kira berpikir begitu?

Beberapa minggu terakhir, dunia disibukkan dengan anjuran jangan keluar rumah. Buat saya, ini anjuran yang tidak terlalu berdampak, berhubung biasanya juga mager untuk keluar rumah. Namun tidak demikian bagi semua orang. Nyatanya, ada yang menghadapi rutinitas seperti ini pertama kali dalam hidup mereka. Kebiasaan nongkrong di warung kopi atau cekakak-cekikik di restoran bersama teman sudah menghiasi sejak sepanjang hidup orang-orang ini. Begitu “kebebasan” itu direnggut, stress lah pikiran.

Lanjutkan membaca “Kenapa Takut Sekali dengan Bosan?”

Gampang Move On

Pada perjalanan ke Siem Reap, Kamboja, tahun 2016, terdapat sebuah tragedi yang melibatkan tuk-tuk dan ponsel. Tragedi ini terjadi di perjalanan dari sebuah pasar menuju penginapan AirBnB kami yang terletak di pinggiran kota. Kombinasi antara kondisi tuk-tuk yang memang reyot dan fisik jalan yang “mulus” bagaikan kulit lansia, membuat naik tuk-tuk terasa seperti sedang roller coaster. Sebenarnya tawa menemani sepanjang perjalanan, karena saya belum tahu sebuah musibah akan menghampiri. Barulah saat tiba di AirBnB, saya tersadar kalau kantong terasa tepos karena ternyata ponsel saya telah raib ditelan tuk-tuk entah dimana.

Lanjutkan membaca “Gampang Move On”

Metafora Kehidupan dalam Pendakian Papandayan

Metafora Kehidupan dalam Pendakian Papandayan

Kalau hanya tujuan yang dipikirkan, kita akan mudah untuk menyerah. Mereka yang bertahan adalah yang mampu menikmati perjalanan.

Setiap perjalanan dimulai karena ingin mencapai suatu tujuan.

Untuk apa orang melakukan pendakian gunung, utamanya adalah untuk bisa mencapai puncak.

Dalam kehidupan, karena kita ingin menjadi sukses—apapun definisi suksesmu: berkontribusi untuk masyarakat, ingin kaya raya, ingin punya jutaan subscriber—maka dimulai juga perjalanan kita.

Seringkali, tujuan tersebut tidak sepenuhnya konkret, tertutup oleh kabut, atau bahkan terhalang oleh bukit lain di sekitarnya.

Lanjutkan membaca “Metafora Kehidupan dalam Pendakian Papandayan”

Mendaki Prau Bersama si Ganteng dan si Playboy

Mendaki Prau Bersama si Ganteng dan si Playboy

“Sunrise mana yang paling bagus menurut lu?”

“Nomer 1, Prau sih…”

Sudah dua kali jawaban ini terdengar oleh Tempe. Dan pertanyaan ini diajukan ke 2 orang yang sebetulnya sudah naik beberapa gunung, kok bisa jawabannya kompak?

Namanya juga Tempe, daripada penasaran kenapa bisa jawabannya sama, langsung aja coba kita lihat sebagus apa memang sunrise di Prau…

Konyolnya, Tempe tentukan sendiri tanggalnya tanpa memperhitungkan musim sama sekali. Sebaiknya tidak ditiru ya, musim hujan kok naik gunung… tidak tanggung-tanggung lagi, ramalan cuaca kala itu mengatakan pada tanggal pendakian cuacanya: THUNDERSTORM!

Lanjutkan membaca “Mendaki Prau Bersama si Ganteng dan si Playboy”