Ada sebuah cerita unik pada perjalanan saya ke sebuah kota di Belanda bersama dengan dua orang teman bulan lalu. Pada saat kami sedang asik menikmati hidangan makan siang, salah satu teman tiba-tiba menuturkan bahwa ada seorang kenalannya yang sepertinya baru saja lewat. Uniknya, kenalan ini ia “temui” pada sebuah aplikasi pencari jodoh, jadi ada nuansa berbeda dari ketidaksengajaan tersebut. Diiringi dengan cerita lebih lengkap mengenai pertemuan mereka berdua, kami melanjutkan perjalanan kami dengan biasa saja.

Tak dinyana, ketika kami sedang mengarah ke destinasi berikutnya, lagi-lagi secara tidak sengaja kami bertemu dengan orang tersebut. Kali ini, bukan hanya kami yang melihatnya, begitu juga sebaliknya. Tentu saja kami tertawa-tawa dan mulai bercanda bahwa dua kali papasan ini pasti “ada maksudnya”. Celetukan seperti “kalau papasan lagi, mesti disapa sih” pun muncul, disambut tawa karena kami tahu kemungkinannya kecil sekali.

Dan benar saja. Kami berpapasan lagi dengan orang tersebut, bukan hanya sekali lagi, melainkan tiga kali! Anehnya, kami bahkan sempat berganti kota, sampai-sampai berkata dengan nada setengah serius “kalau sampai ketemu lagi, sudah pasti suatu pertanda ini.”, dan beberapa saat kemudian tiba-tiba melihat orang tersebut berada dalam sebuah toko yang sedang kami tuju. Ketidaksengajaan yang awalnya terkesan jenaka, lama-lama kok jadi menyeramkan.

Begitulah bahaya mulut kita. Ada peribahasa yang berkata: Mulutmu, harimaumu. Ya, kita sudah semestinya berhati-hati saat mengatakan sesuatu. Namun, ada sudut pandang lain yang ingin saya bagikan:

Kenapa tidak gunakan mulut kita untuk berkata-kata hal yang positif? Moga-moga menjadi kenyataan bukan?

Ketika masa SMA hampir usai, saya sebetulnya tidak tahu ingin mengambil jurusan apa untuk perkuliahan. Saya hanya mengetahui satu hal: main game di komputer itu menyenangkan. Dulu, saya bisa menghabiskan waktu hingga subuh untuk bermain game, dan malah tidur ketika di sekolah. Don’t try this at school!

Hampir setiap hari sekitar jam satu pagi, saya selalu diingatkan oleh Ibu untuk segera beristirahat. Karena bosan selalu diberi peringatan demikian, saya mulai berkilah ingin kuliah jurusan komputer saja, jadi tidak ada yang protes lagi ketika saya main game. Itu saja alasan saya, tidak ada yang lain. Ternyata, jawaban itu menempel dan terus-menerus saya ucapkan jika ada yang menanyakan target kuliah. Benar saja, akhirnya saya berkesempatan mengikuti jurusan teknik informatika untuk S1. Memang mulutmu, harimaumu.

Berhasil memenuhi cita-cita untuk bisa main game sepuasnya

Mirip dengan kejadian pada saat SMA, menjelang akhir kuliah pun saya tidak tahu mau diapakan hidup saya ini. Yang saya tahu pasti, saya ingin bekerja saja karena sudah bosan bertahun-tahun sekolah. Walau demikian, saya tetap punya pandangan bahwa kuliah S2 itu penting, jika memang diberi kesempatan. Entah dapat wangsit darimana, mungkin karena bosan ditanya-tanya melulu, saya mulai menjawab dengan yakin dan tanpa celah: “setelah kuliah, kerja empat tahun, kemudian kuliah MBA di Eropa dengan beasiswa”. Nah, mau tanya apalagi?

Lagi-lagi, jawaban tersebut saya ulang-ulangi dan akhirnya terngiang-ngiang selalu dalam kepala. Walau tanpa harapan yang besar, saya iseng mencari kesempatan kuliah S2 dengan beasiswa mulai dari tahun ketiga saya bekerja. Yang awalnya hanya lihat-lihat malah jadi keterusan. Mulai dari tahun 2018, saya berkesempatan S2 ke Belanda dengan beasiswa penuh LPDP. Persis seperti yang saya katakan empat tahun sebelumnya. Perbedaannya hanya di jurusan yang saya ambil.

Entah bagaimana akhirnya terdampar di Belanda

Saya beruntung, ucapan-ucapan yang saya lontarkan secara iseng memiliki makna yang positif. Dengan dua kejadian ini, saya justru merasa bahwa mulutmu, malaikatmu. Memang tepat faktanya bahwa orang pertama yang mendengar ucapan kita ya, diri kita sendiri. Lama-kelamaan, ucapan-ucapan dan pemikiran-pemikiran kita akan menjadi sugesti yang bisa mempengaruhi pola pikir kita. Pola pikir ini lah yang kemudian termanifestasi dalam tindakan kita dalam dunia nyata.

Oleh karena itu, daripada menganggap mulut kita sebagai harimau yang mencekam, pandanglah sebagai malaikat yang mampu mengabulkan permintaan kita.

Sekarang enaknya mengulang-ulang ucapan apa ya?

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s