Jika tiga bulan lalu ada yang berkelakar bahwa dunia akan mengalami resesi dan tatanan dunia akan berubah drastis, saya mungkin akan menertawai orang tersebut. Era 2010-an bagaikan sebuah bulan madu bagi umat manusia. Ekonomi berkembang jor-joran akibat revolusi teknologi dan pelancong bisa melanglangbuana ke sudut-sudut dunia. Siapa gerangan yang mengira bahwa semua itu akan menghilang begitu saja?

Tahun 2020 akan selamanya kukenang. Sejak awal mulanya, sudah banyak peringatan yang diberikan. Sepertinya alam sudah geram dengan perilaku kita dan melampiaskan semuanya tahun ini. Diawali dengan kunjungan pulang kampung yang diwarnai musibah banjir hingga kini jauh dari keluarga saat kondisi sedang mencekam. Bukan menyebar ketakutan, tapi jujur saja saya tidak melihat kemungkinan kita bisa sepenuhnya kembali “normal” seperti masa pra-corona. Tapi sekarang bukan waktunya berkutat dengan rasa pesimisme.

Saya suka dengan frasa “Jati Diri”. Google menerjemahkan frasa ini sebagai identity, yang mana secara bahasa indonesia sudah ada padanan langsungnya yaitu identitas. Jati diri, di lain pihak, menggambarkan material apa yang menjadi fondasi utama diri kita. Di masa seperti ini, ketika kita tidak lagi bisa pergi ke kantor atau nongkrong berjam-jam di warung kopi, siapakah diri kita? Adakah “jati”-mu yang unik atau segalanya mesti didefinisikan oleh faktor eksternal seperti relasi dan jabatan?

Kita sedang dalam ujian besar. Ujian jati diri yang mengandung hanya satu pertanyaan: ketika segala hal yang selama ini melekat dalam diri kita, yang kita anggap aman dan bahkan sudah menjadi bagian dari hidup kita, diambil begitu saja, apa yang tersisa dari diri kita? Karena kekuatan sebuah pohon tidak diukur saat tenang, melainkan ketika badai menerjang. Dan ingat, pada saat badai, pohon yang terlihat goyah akan ditebang karena membahayakan sekitarnya.

Adalah baik untuk memanfaatkan momen krisis seperti ini sebagai waktu merefleksikan lagi apa jati diri kita. Apakah kita masih bisa kokoh berdiri ketika semua yang bisa diambil dari diri kita, terambil? Dan tidak kalah pentingnya: siapa. Siapa saja yang betul-betul punya andil dalam hidup kita? Siapa saja yang berarti bagi kita? Semakin saya mencoba memperkokoh jati diri, semakin saya sadar bahwa tidak mungkin di dunia untuk hidup sepenuhnya sendiri. Kita sudah semestinya saling membantu, baik dalam masa senang dan terutama masa sulit. Apalah arti badai jika yang ia hadapi adalah hutan.

Mari manfaatkan momen ini untuk memahami apa saja hal-hal yang benar-benar esensial bagi kita dan mana yang sebenarnya hanya sumber distraksi.

 

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s