Gampang Move On

Pada perjalanan ke Siem Reap, Kamboja, tahun 2016, terdapat sebuah tragedi yang melibatkan tuk-tuk dan ponsel. Tragedi ini terjadi di perjalanan dari sebuah pasar menuju penginapan AirBnB kami yang terletak di pinggiran kota. Kombinasi antara kondisi tuk-tuk yang memang reyot dan fisik jalan yang “mulus” bagaikan kulit lansia, membuat naik tuk-tuk terasa seperti sedang roller coaster. Sebenarnya tawa menemani sepanjang perjalanan, karena saya belum tahu sebuah musibah akan menghampiri. Barulah saat tiba di AirBnB, saya tersadar kalau kantong terasa tepos karena ternyata ponsel saya telah raib ditelan tuk-tuk entah dimana.

Awalnya saya optimis. Dibantu oleh rekan seperjalanan, saya berusaha napak tilas jalur tuk-tuk untuk mencari si ponsel. Di antara teman saya, ada yang mencoba untuk menelpon ponsel saya, ada pula yang membantu menyisir jalanan yang dilewati tuk-tuk tersangka. Namun, memang nasib, ponsel saya sudah terbang bersama angin.

Hal yang ingin saya sampaikan justru kejadian setelahnya. Begitu segala usaha telah dilakukan, saya begitu saja melupakan ponsel saya yang sudah hilang dan melanjutkan perjalanan seolah tragedi ponsel hilang tak pernah terjadi. Kelempengan saya kemudian dipertanyakan oleh salah satu teman: “Kok lu bisa tenang banget?”, katanya. “Ya, mau ngapain lagi”, sahut saya seraya lanjut main kartu remi, “Hilang ya hilang”. Pada saat itu, mungkin saya lebih santai daripada teman saya, padahal yang hilang ponsel saya sendiri.

Nyatanya, banyak orang yang tidak bisa se-legowo itu ketika baru kehilangan sesuatu, manalagi kehilangan ponsel. Urutan hipotetisnya setelah kehilangan orang yang disayangi dan dompet, ponsel adalah yang paling nyebelin ketika hilang. Pikiran-pikiran tentang segala macam hal yang harus dilakukan, seperti mengurus kartu SIM baru dan hilangnya berbagai foto atau dokumen (pada zaman itu simpanan berbasis awan belum populer), akan menghantui. Pada tulisan ini, saya ingin membagikan salah satu pendekatan mengenai bagaimana menjadi orang yang mudah move on. Tentu ada juga aspek lain, tetapi saya akan fokus pada hal yang jarang disadari orang.

Prinsip ini terdengar simpel: hati-hati investasi perasaan pada barang. Ketika mempraktekannya, terkadang kita akan merasa seperti seseorang yang tidak punya perasaan. Konsep ini mirip dengan gaya hidup minimalis yang digagas Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus (https://www.theminimalists.com/). Idiom less is more sepertinya tepat untuk menggambarkan intisari minimalisme. Hanya saja, saya mengambil perspektif berbeda dari segi tujuannya. Dengan berhati-hati menaruh perasaan pada suatu barang, maka anda jadi tidak terikat pada banyak hal. Misalnya ponsel saya di Kamboja, saya tidak terikat oleh apapun yang ada di dalamnya, maka dengan mudah saya bisa move on dari barang tersebut. Kalau tiba-tiba hilang, ya tinggal pikirkan bagaimana caranya fungsi barang tersebut bisa digantikan dengan barang lain.

Jujur saja, bersikap demikian butuh persiapan dan latihan. Setiap kali saya merasa mulai kecanduan akan sesuatu, saya akan mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa kok hidup tanpa hal tersebut. Ponsel misalnya, saya berusaha tidak kecanduan pada aplikasi apapun di dalamnya. Sebagai ilustrasi, saya pernah mencoba satu bulan tanpa media sosial  (Twitter, Instagram, YouTube). Ketika saya mulai merasa terlalu banyak mengakses platform tersebut, waktunya saya berhenti sejenak. Saya juga pernah memutus total akses ke televisi selama satu bulan dan toh saya masih hidup sampai sekarang. Saking seringnya saya mencoba bereksperimen, teman satu asrama pernah menyimpulkan bahwa saya punya prinsip “menghentikan segala kegiatan yang menyenangkan dari hidup” setiap datang masa ujian. Hmm, jadi seperti petapa ya.

Jadi, ketika anda membeli atau mendapatkan sesuatu yang baru, fokus pada fungsinya dan pastikan anda siap jika kapanpun harus kehilangan hal tersebut. Kurangi keterikatan pada barang dengan berhati-hati menginvestasikan perasaan.

Dan ternyata prinsip ini tidak hanya berlaku untuk barang. Pada relasi, misalnya. Ketika saya mulai merasa terlalu bergantung pada seseorang, waktunya refleksi apa ketergantungan saya tersebut dan memastikan jikalau relasi tersebut tiba-tiba raib, saya harus bisa melanjutkan hidup. Bagaimana dengan keterikatan pada suatu kenangan? Sebetulnya kenangan itu juga “barang” yang terus-menerus kita tumpuk dalam pikiran kita. Namun bedanya, apakah kenangan sewajarnya bisa diambil dari kita sewaktu-waktu? Jika tidak, mungkin sudah semestinya kita investasikan perasaan pada kenangan dan memperlakukannya sebagai sesuatu yang berharga.

Salah seorang teman saya pernah mengalami kejadian serupa, baru-baru ini bahkan. Ia “kehilangan” ponselnya karena keteledoran, mirip seperti saya yang menaruh ponsel di kantong saya sambil naik tuk-tuk gojrak-gajruk. Bedanya, kesedihan akan kehilangan ponsel ternyata menggandrungi teman saya ini sampai satu jam. Ia bertahan di tempat ponsel tersebut raib, padahal sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Baiknya kita menyadari bahwa semua barang yang melekat pada kita itu sifatnya sementara dan bisa hilang kapanpun juga. Maka jika kita berhati-hati menginvestasikan perasaan, kita bisa terhindar dari hantu penyesalan yang justru mengambil waktu kita secara percuma.

 

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s