Better late than never…

Tampaknya cerita ini terlalu sulit untuk dituliskan di blog karena begitu banyak yang bisa diceritakan. Kalau misalnya harus dituliskan semua-muanya yang ingin ditulis, maka jadilah ini sebuah novel yang tidak akan pernah ada yang baca.

Namun, walaupun sudah berkata demikian, belakangan ini beberapa teman yang memang mengetahui bahwa saya sempat berkunjung ke benua biru justru menanyakan secara lengkap itinerary saya. Dan itu kembali membangkitkan motivasi awal saya menulis di blog ini: membantu, karena sudah banyak terbantu.

So, let’s continue the story.


Marcantilaan

Betapa beruntungnya Tempe dan Pong, untuk kota pertama yaitu Amsterdam, mereka tidak perlu mengeluarkan euro (yang begitu berharga, setiap sen-nya) untuk penginapan. Semua berkat Sung!

Well, not really Sung. 

Ini semua berkat kemurahan hati oom dan tantenya Sung yang super baik. Mereka bertiga bisa mendapatkan tempat merebahkan kepala, dan bukan hanya itu, tempatnya asik banget, lokasinya dekat dengan bus stop untuk ke pusat kota, view-nya pun macam di film-film, dan yang paling penting: disediakan makanan Indonesia… gratis!

Spageti at Marcantilaan
Iya iya, spageti bukan makanan Indonesia, paling ngga ada sambel ABC tu!

Penuh dengan rasa semangat dan keingintahuan yang membara, tentu saja mereka tidak butuh lama-lama beristirahat. Segera setelah terpuaskan dengan spageti, waktunya beranjak berkeliling Amsterdam!

Amsterdam Central

Nah, dari Marcantilaan ke Amsterdam Central ini bisa ditempuh dengan bus, tetapi tidak terlalu jauh dan sekalian liat-liat jadi mereka memilih untuk berjalan kaki saja.

Kalau kalian pernah main game city simulator atau semacamnya dan mengetahui bagaimana membangun kota yang efektif, seperti itulah kota Amsterdam: blok-blok rapi yang semuanya tampak… sama. Awalnya menelusuri jalan masih terpukau dengan suasananya, tetapi lama-lama bingung juga, lah perasaan tadi udah pernah lewat jalan ini.

Amsterdam = sungai, jembatan, rumah susun, sungai jembatan, rumah susun, dst…

Oh ya, ditambah beberapa “coffee” shop di antaranya, tentu saja dengan wangi khasnya…

Di setiap kota di Belanda, selalu ada Central-nya. Tempatnya pasti ramai, orang lalu lalang dengan sepedanya, dan banyak tempat nongkrong. Anyway, beberapa tempat yang menarik di Amsterdam Central:

Multatuli. Max Havelaar.
Adakah monumen untuk mengenang jasanya… di Indonesia…?
War Monument
War Monument, dari monumennya, setiap negara yang pernah terlibat di dalam perang sepertinya setuju: it was horrible.

 Amsterdam ArenA

Sebetulnya ada banyak yang bisa dikagumi di Amsterdam Central, tetapi sayang waktu mereka tidak sebanyak yang mereka butuhkan. Sebetulnya nama “Amsterdam Centraal” sendiri lebih dikenal sebagai nama stasiun kereta api utama di…. Amsterdam (menurut lo…). Lokasinya sangat dekat dengan pusat kota Amsterdam, sekitar 2 sampai 3 coffee shop jaraknya.

Sebagai penggemar sepak bola, salah satu atraksi yang tidak boleh terlewatkan oleh mereka berempat tentu saja adalah: Amsterdam ArenA, markas Ajax Amsterdam. Untuk mencapai ArenA, perlu menggunakan kereta, tetapi tentu saja stasiun kereta tujuannya tepat berhenti di depan ArenA, jadi ga perlu jalan jauh-jauh kok.

Di Belanda, sistem pembayaran angkutan umumnya menggunakan kartu prepaid. Nah, untungnya si Mr. Chow sebagai penghuni tetap negara belanda sudah berbaik hati meminjam kartu-kartu milik teman-temannya. Udah gitu, kalau misalnya jalan-jalan sama resident setempat, kita bisa dapat group discount, tapi ga tau deh ini berlaku selamanya atau engga.

Meski bukan stadium terbesar atau ter-ter lainnya, tetapi harus diakui Amsterdam ArenA ini sangat menarik. Ada tour rutin bahkan di hari biasa, 2-3 kali sehari. Bisa pilih mau yang berbahasa Belanda atau berbahasa Inggris. Tentu saja mereka berempat memilih untuk mengikuti tour dengan panduan bahasa Inggris lah… Namun…

Tour Guide: Hi everyone, I will be your tour guide for today. How many of you speak English?

(hanya Tempe, Sung, Pong, dan Mr. Chow mengacungkan tangan)

Tempe: (dalam hati) loh, kok..? Bentar, ada yang aneh..?

Tour Guide: Oh ok, just one group… aaand how many speak Dutch?

(anggota rombongan lain mengacungkan tangan)

Tour Guide: (sambil tersenyum licik) … (mulai ngomong bahasa Belanda sambil tertawa-tawa dengan anggota rombongan yang lain)

Tempe: asem.

Udah lagi kesel-keselnya, si tour guide akhirnya mengajak untuk masuk ke dalam. Hampir semua orang lain masuk-masuk aja, Sung masuk, Pong masuk, Chow masuk, namun giliran Tempe mau masuk tiba-tiba dihalangin sama guidenya.

your ticket? 

(Tempe menunjukkan tiket tournya)

Ok.

Double asem ni orang! Pikir Tempe.

Setelah dikerjain sama petugas imigrasi, sekarang dikerjain sama tour guide? Tempe menahan rasa kesalnya yang diperparah dengan cekikikan Sung, Pong, dan Chow. Betul-betul kalian teman yang baik hati, kata Tempe kecut.

Semula mereka masih mengharapkan penjelasan yang menarik dari sang tour guide, tetapi spot demi spot mereka baru sadar, kok ada diskriminasi sih?

Pong clueless akibat minim penjelasan
Pong clueless akibat minim penjelasan

Di setiap spot, si tour guide bakal memulai dengan penjelasan panjang lebar dan canda tawa dengan rombongan, dalam bahasa Belanda tentu saja, misalnya:

Dit is de zaal, zullen de media meestal zitten hier en de managers praten over hun tactiek en wat aan de voorkant. Deze kamer biedt plaats aan maximaal 40 personen en uitgerust met live-uitzendingen systeem. Onze huidige manager is Frank de Boer en hij bracht vier opeenvolgende landstitels. Dus laat me doen alsof ze iets belangrijks aan jullie uit te leggen terwijl deze vier buitenlander verward en verloor veel interessante informatie. 

dan setelah itu berpaling ke mereka berempat, berkata:

This is the conference room.

Kemudian melanjutkan tour.

Sigh.

Bahkan ada sekali spot dimana mereka berempat tidak mendapatkan penjelasan apapun (di ruangan security), sampai ditinggal rombongan. Untungnya ada seorang bapak-bapak baik yang mau menjelaskan dengan bahasa Inggris. Triple asem!

Inside Amsterdam ArenA
Daripada ga ngerti penjelasan tour guidenya, mending foto-foto aja…

Oh ya, pengelolaannya harus diacungi jempol karena satu alasan: mereka sangat melek teknologi. Begitu mulai tournya, kita bisa download app ArenA, bisa pakai wifi gratis mereka, dan dapat info-info juga dari situ sebenarnya. Selain itu, ada booth untuk foto bareng dan fotonya bakal otomatis di post ke facebooknya Amsterdam ArenA. Bahkan, ada ini!

Photobooth ArenA
Walaupun overexposure, tapi booth ini sentuhan yang simpel dan menarik kan?

That’s not even the best part.

Setelah berfoto di booth, saat mereka berempat menunggu anggota rombongan lain juga berfoto, tiba-tiba si Tour Guide memutuskan untuk… mengajak basa-basi:

Tour Guide: Hey, you got the dutch uniform, thats great!

Tempe: thanks…? 

Tour Guide: Where do you guys come from?

Tempe: Indonesia

Tour Guide: oh, really? My mother is Indonesian!

Tempe: (speechless)

Tour Guide: halo, apa kabar? *kemudian tersenyum bangga

Tempe: (facepalm)

Ternyata oh ternyata, si Guide yang udah mendiskriminasi ini half-blood prince!

Setelah itu mereka malah banyak ngobrol-ngobrol dengan si guide dan uniknya ia mengatakan bahwa akan mengunjungi Jakarta dalam waktu dekat, siapa tau dia baca post ini? (baca pun ngerti juga kaga sih…)

Hey I have one message for you guys, kata si guide setelah tour berakhir

Hati-hati dengan sepeda! Katanya sambil tertawa.

Jadi pelajaran untuk kedua belah pihak adalah: don’t judge.

Tempe dengan half-blood prince guide di akhir tour
Tempe dengan half-blood prince guide di akhir tour

I AMsterdam

Yap, tentu saja ada satu tempat yang paling happening di Amsterdam sebagai spot foto wajib. Apalagi kalau bukan tulisan I AMsterdam di dekat Rijkmuseum. Sebenernya Rijkmuseum-nya juga menarik sih, tapi tiket masuknya sepertinya cukup menguras kantong, jadi mereka berempat setuju: Skip!

Betapa ramainya tempat ini...
Betapa ramainya tempat ini… Banyak pula yang manjat-manjat…

Nah kalau kalian datangnya di tengah hari macam mereka berempat, hampir dapat dipastikan ga bakal bisa dapat foto eksklusif. Penuh dengan cameo!

Beruntung Mr. Chow menyelamatkan hari mereka, setelah mencoba beberapa kali tak kunjung mendapatkan foto yang diharapkan, ia memberikan info bahwa ada pula tulisan macam ini di tempat lain dan biasanya lebih sepi. Lokasinya di sebuah taman yang tentu saja namanya sudah dilupakan… ha… ha….

Semacam copy-paste dari yang ada di rijkmuseum
Semacam copy-paste dari yang ada di rijkmuseum. Tapi kok ada tong sampah ikutan foto…

De Wallen, aka Red Light District

Malam pun tiba, namun gelap tak kunjung datang. Walaupun tentu saja tidak disengaja, mereka berempat “nyasar” ke De Wallen, dan disana…

Ceritain ga ya…?

Ini dikasih foto aja sebiji...
No photos allowed here, sir!

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s