Untuk apa sih kamu travelling?

Sekitar sebulan lalu Tempe berkesempatan untuk bisa pergi ke Jogjakarta, kota yang selalu memiliki kenyamanan sendiri pada setiap kunjungannya. Kali ini Koya tidak bisa ikut, namun bersama Mihe ada satu tempat yang menjadi tujuan dari perjalanan kali ini. Walaupun bukan itu inti dari tulisan ini.

Singgah sejenak di sebuah tempat wisata yang lagi happening di daerah Jogja, Tempe dan Mihe malah disuguhkan pemandangan yang di atas ekspektasi. Tempat ini bernama Kalibiru, dan ada sebuah celetukan kecil yang terdengar disini dan terlalu sayang untuk tidak dibagikan.

Di Kalibiru, kita diberikan 3 spot tempat untuk berfoto. Sebetulnya objek foto dari ketiga spot ini semua sama saja, bentukannya pun tidak jauh berbeda. Kita bisa naik tangga, “memanjat” pohon menuju viewpoint yang cukup tinggi. Tidak besar, paling hanya 2×2 meter. Info yang beredar, tempat ini sangat ramai ketika siang, bisa mengantri untuk sekedar berfoto di setiap spot. Namun kali itu Tempe dan Mihe justru datang terlalu pagi, bahkan lebih pagi daripada petugas penjaga spot.

Karena kebetulan saat Tempe dan Mihe sedang mengantri bahkan sebelum antrian itu ada, Mihe kedapatan untuk menjadi yang pertama pada hari itu. Namun, karena antara spot tersebut dan lokasi untuk memotret membutuhkan sekitar 5 menit untuk bolak-balik, Tempe tidak bisa menjadi penerus Mihe, ia harus menunggu ada 2 orang lain setelah Mihe. Oke, ga apa apa, gw kan orang sabar, pikir Tempe.

Ilustrasi mas-mas penjaga spot
Ilustrasi mas-mas penjaga spot foto

Ketika Tempe sedang menunggu, seorang pemudi mendapat giliran untuk naik dan berfoto di spot. Tentu saja ia siap dengan membawa kameranya. Dengan berbagai gaya, jeprat-jepret, selfa-selfie, ia sepertinya sudah cukup puas. Umumnya setiap orang diberikan waktu 3 menit untuk ada di spot, tapi jika ingin lebih cepat turun tentu para petugas tidak keberatan.

“Mas, Mas,” sahut si Mba yang sedang ada di spot

“Ya Mba?” jawab petugas yang ada di bawah

“Sudah cukup, saya mau turun.” kata si Mba lagi sepertinya sudah ingin sekali mengakhiri sesinya.

“Foto-fotonya sudah Mba?” sahut si Mas sedikit iseng.

“Sudah mas, memorynya sudah habis!” si Mba pun tidak kehabisan akal.

“Memori di kepala juga sudah habis, Mba?”

Saat itulah Tempe tersentak, dengan sebuah celetukan sesederhana itu.

Kalibiru Spot 1
Merekam setiap momen di memori kepala

Ketika sedang ada di atas spot foto, dan pada perjalanan-perjalanannya berikutnya, kata-kata tersebut selalu menghantui pemikiran Tempe.


Jadi, untuk apa kamu travelling?

Untuk refreshing? menjelajahi dunia? Mungkin ingin mencoret daftar bucket list? Bertemu dengan orang baru? Atau pamer di sosmed?

Ga masalah kok apapun alasan kamu, bahkan saya baru memikirkan apa tujuan saya travelling sejak mendengar celetukan dari mas-mas penjaga di kalibiru. Saya selalu bilang kepada teman-teman, tujuan saya travelling itu supaya bisa foto-foto. Tapi itu hanya satu hal, apakah itu tujuan utama? Jauh dari itu.

Borobudur sunset
Menikmati setiap momen dalam memori kepala

Sekitar 2 minggu sebelum ke Jogja, saya membaca sebuah artikel yang merupakan anti-tesis dari idiom yang sedang berkembang di sosmed belakangan ini:

Quit your job, go travel the world

Artikel ini menceritakan pengalaman pribadi seseorang yang betul-betul keluar dari pekerjaan 9-5nya dan pergi berkeliling tanpa arah. Tapi pada akhirnya, ia mengambil kesimpulan bahwa travel the world itu tidak semenarik kedengarannya. Ia tidak mendapatkan teman baru, tempat yang ia kunjungi biasa saja, dan pada akhirnya ia memutuskan bahwa semua cerita-cerita yang ia dengar sebelumnya adalah nonsense, tidak sesuai dengan kenyataannya.

Saya mulai menyadari, travelling itu bukan tentang refreshing, bukan tentang mencari teman baru, atau sebisa mungkin mengunjungi semua tempat di dunia yang belum pernah kita kunjungi. Travelling itu ya… berjalan-jalan. Kamu punya tujuan spesifik? Tidak masalah, tetapi apa itu artinya perjalanan kamu sia-sia jika tidak berhasil memenuhi tujuan spesifik itu?

Hey, enjoy your trip. Every moment of it.

Cuma itu yang ingin saya sampaikan sebetulnya. Jangan lupa, kita diberkahi mata dan kepala yang tidak dibatasi oleh berapa ukuran giga byte atau tera byte, melainkan sejauh mana kita bisa bersyukur.

Wah harus ke pantai ini nih, harus banget nyobain makanan itu tuh, semua itu hanya sekedar saran kawan. Ketika ternyata kamu sampai tempatnya ternyata tidak terlalu menarik bagimu, ga masalah, enjoy that moment. Sudah sering sekali saya gagal dapat sunrise yang saya harapkan di berbagai lokasi, tetapi saya selalu menemukan bahwa matahari akan tetap bercahaya dan keindahannya tidak berkurang sama sekali kok.

Dan ketika momen itu datang, pastikan kamu siap merekamnya di memori kepalamu.

 

Punthuk Setumbu
Antar kamu memaki-maki awan dan kabut karena menutupi sunrise, atau berhenti sejenak untuk sekedar mengagumi pemandangan Borobudur dari kejauhan. Sudah ketemu Borobudurnya? 🙂

 

2 pemikiran pada “Memori Kepala

  1. travelling itu… depends on how each person interpret what does travelling mean. setuju sih sama alesan, “enjoy your moment”. Karena era skrg ini everyone is a traveller, jadinya travelling sndiri tujuannya ud beragam hingga cm buat pamer aja di socmed.

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s