YULT Kedubes Belanda: Ampun Sung.

Pelajaran utama dari perjalanan ini memang: Ya sudahlah, dinikmati saja.

Tetapi salah satu pesan utama yang terus menerus mengaung dan terbukti adalah: Jangan sombong.

Semuanya bermula bahkan sebelum kaki Tempe, Sung, dan Pong berpijak di benua film biru.

Di sebuah hari kerja yang cerah, Tempe, Sung, dan Pong berangkat masing-masing menuju ke kedutaan besar Belanda. Singkat cerita, diantara mereka bertiga sepertinya Sung adalah yang paling bersemangat dan percaya diri. Bagaimana tidak, walaupun rumahnya paling jauh, dia datang paling awal, 2 jam lebih cepat daripada waktu interview.

Tidak bisa disalahkan, Sung sebagai seorang mapan bersahaja dan rajin menabung sebenarnya sudah pernah mendapatkan visa schengen dari kedubes Polandia. Waktu itu dia bosan dengan pemandangan di Jakarta, jadilah ia pergi sebentar ke Polandia untuk buang air dan leha-leha selama seminggu, kemudian balik lagi ke Jakarta. Ampun Sung…

Dari situlah Sung mendapatkan kepercayaan diri, ia merasa dengan selembar visa schengen yang sudah ia dapatkan sebelumnya, tentu saja untuk mendapatkan visa schengen baru akan lebih mudah. Pasti donk…? Sayangnya tidak.

Tempe dan Pong sudah dengan sengaja mencari tempat membuat pas foto yang memang khusus untuk apply visa. Bagaimana dengan Sung?

Ah, gw kan tinggal pakai foto yang di visa sebelumnya… Pikirnya. Udah pasti lolos kualifikasi donk… katanya sambil pamer ke Tempe dan Pong.

Jadilah sewaktu masuk, Tempe maju duluan ke meja pengecekan. Lancar..

Pong menyusul.. Lancar.. Semua dokumen lengkap.

Ketika Tempe dan Pong sedang asik mengurutkan dokumen sesuai tertera di kertas petunjuk yang diberikan, Sung dengan setengah panik setengah malu-maluin menghampiri tukang foto yang tersedia disana. Tempe dan Pong tentu saja kebingungan, adapakah gerangan?

Ga diterima foto gw.. kata Sung

Makanya jangan sombong Sung..! Sambut Tempe dan Pong sambil tertawa menyindir.

Tentu saja setelah itu Sung akan menjadi orang yang rendah hati, ya kan? Sayangnya dia “kesenggol” sekali lagi.

Ketika hampir tiba giliran mereka bertiga untuk interview, terjadi pembicaraan mengenai siapa yang lebih dulu sebaiknya maju interview.

Udah biar gw duluan aja yang maju, cepet kok pasti, kan ga perlu data sidik jari lagi soalnya gw dah pernah, belagunya si Sung. Tempe dan Pong hanya bisa terdiam, ampun Sung..

Begitulah kalian pasti sudah bisa memperkirakan apa yang terjadi:

Silakan letakkan 3 jari di scanner, kata interviewernya

Oh saya sudah pernah scan sidik jari, balas Sung dengan percaya diri

Ga apa-apa, diambil lagi datanya.

Tapi… tapi…

Tempe dan Pong menahan tawa melihat si Sung Percaya Diri kena karma 2 kali.

Untungnya, ketiga paspor merekapun mendapatkan sebuah lembar kelap kelip pada akhirnya. Baik Tempe dan Pong, maupun si Sung yang kini sudah rendah hati dan semakin rajin menabung.

Itulah kawan-kawan, tidak perlu menyombong, karma itu kejam.

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s