Tebing Keraton a.k.a. Tebing Sosmed

Akhirnya bisa bersua lagi.

Masih segar dalam ingatan, jadi baiknya segera dituangkan dalam cerita. Ingatan ini adalah tentang sebuah perjalanan singkat ke Tebing Keraton, tepatnya pada Sabtu subuh, 6 Desember 2014. Tentu saja kita akan tetap ditemani oleh 3 pemeran utama: Tempe, Mihe, dan Koya.

Tujuan perjalanan ini seperti biasa adalah: Mengejar Matahari! 

Tebing Keraton: Mengejar Matahari
Takkan lari matahari dikejar, ngumpet sih iya.

Sebetulnya sudah lama sekali tebing keraton ini ada dalam agenda mereka bertiga, apa daya kini mereka harus mencari sebongkah nasi dan lauk. Dan juga khusus Koya, mengais sepiring gorengan.

Sehubungan dengan target, agenda pertama adalah untuk memeriksa Kapan sih abang matahari akan menunjukkan batang hidungnya?

Adalah tugas Mihe untuk menentukan kapan matahari akan muncul. Setelah mengucap jampi-jampi sana sini, dapatlah sebuah ilham bahwa pukul 5.25 WIB adalah waktu munculnya hidung matahari pagi. Okelah kalau begitu, mereka sepakat untuk berangkat pukul 03.30 WIB.

Sayang seribu sayang, entah karena ketularan Koya atau begitu nyamannya kosan Mihe, mereka baru berangkat menuju Tebing Keraton pada pukul 04.00 WIB. Semua ini salah Koya… *ga mau disalahin

Okeh gapapa, nanti dipercepat aja perjalanannya. Maka subuh itu, dari Ciumbuleuit berangkatlah mereka menuju Tahura.

Tahura, alias Taman Hutan Raya Juanda, terletak sedikit di utara Terminal Dago. Cuma ada 1 persimpangan, ambil Kanan, sisanya sih ikutin jalan aja.

Tentu saja pertanyaannya: Kok cuma sampai Tahura?

Oke, memang menurut sumber yang mereka temukan, sebetulnya bisa kok bawa kendaraan pribadi, termasuk mobil, sampai ke Tebing Keraton. Tapi keputusan mereka adalah untuk berjalan kaki, sambil menikmati sekaligus refreshing di tengah suasana perjalanan kesana tentu saja. Apakah ini keputusan yang tepat? Mari kita cari tahu.

Selesai memarkir kendaraan dengan tenang di Tahura yang pada malam hari lebih mirip tempat adu nyali daripada hutan raya, mereka bersiap menghadapi perjalanan panjang. Begitu keluar dari mobil, brrr… udara semeriwing sudah perlahan menggoda iman. Sebelum meninggalkan mobil di tempat umum, berdasarkan pengalaman sebelumnya, tak lupa Tempe menyapa dulu penjaga disana dan meminta ijin.

Disinilah dimulai balada ‘naik ojek’.

Penjaga tersebut adalah orang pertama yang menawarkan mereka bertiga untuk naik ojek saja. Orang pertama dari berapa orang memang?

Ah tidak usah A’, kami mau jalan kaki saja. Sahut Tempe santai, untungnya penjaga satu ini juga mengiyakan jawabannya.

Jalan kaki tebing kraton
5 km aja kok depan jidat! Okelah harusnya 4,9km. Santai sih cuma beda 0,1km…

Kalau ditengok-tengok dan dibandingkan dengan perjalanan sebelumnya ke Bukit Moko, kira-kira jaraknya juga segitu lah. Rute yang mereka tempuh sama seperti yang tergambar di googlemaps, hanya saja di pertigaan terakhir itu seharusnya ke kiri, tapi tampaknya oleh gmap rute tersebut dianggap tidak manusiawi jadi tidak terhubung. Ini ada sebuah ilustrasi yang sangat membantu mengenai perjalanan ke Tebing Keraton (Special thanks untuk penulis aslinya).

Ilustrasi perjalanan ke Tebing Keraton
Ilustrasi perjalanan ke Tebing Keraton dengan bumbu (sumber: https://adhityareza.files.wordpress.com/2014/08/jalan-tebing-keraton.jpg)

Berhubung jarak yang kira-kira sama dengan perjalanan kaki ke Bukit Moko, tentu saja waktu yang dibutuhkan juga sama lah ya? Sayangnya.. tidak!

Sebelum melanjutkan cerita jalan kaki ke tebing kraton, mereka bertiga menyadari bahwa rute yang ditempuh ini mirip sekali dengan kondisi di daerah Bukit Moko, pasti dekat deh mereka berdua… begitu pikir mereka. Usut punya usut, ternyata kedua tempat ini memang dekat sekali! Bahkan di gmap, kalau kita jalan kaki dari Tebing Keraton ke Bukit Moko, waktu yang dibutuhkan hanya 1 jam!

Flying Fox Kraton-Moko
Tuhkan deket banget! Gimana kalau dibikin flying fox aja?

Verifikasi pertama: tempat pungli yang disebutkan pada ilustrasi di atas itu benar keberadaannya. Bahkan ini bukan sekedar tempat pungli biasa. Waktu mereka bertiga sedang berjalan kaki dan melewati pos ronda yang tentu saja diisi oleh peronda (ya kali…), ada sebuah mobil yang sedang ditahan disana. Beberapa percakapan yang terdengar:

…mengganggu kenyamanan warga sini… Sahut penjaga pos

tapi teman saya sudah di depan tu A’… Timpal pengemudi mobil yang ingin masuk

Tentu saja semuanya itu kembali ke 1 hal: salam tempel. Tapi kedua mobil tersebut akhirnya sampai juga kok ke Tebing Keraton, jadi bukan tidak mungkin bawa mobil sampai ke Tebing Keraton (paling engga, sampai ke warung bandrek masih bisa lah). Mobil besar? Mobil kecil? Yang pasti kalau mobil sedan mending jangan deh, bisa soak bagian bawah mobil kalian. Kalau mobil yang lebar banget juga mending hati-hati, sampai warung bandrek aja cukup sisanya bisa jalan/ojek. Ada juga karena waktu itu pas habis hujan, ada 1 avanza yang terpaksa mundur jauh sampai ke warung bandrek karena maksain naik jalan berbatu abis warung bandrek padahal kondisi jalanan lagi licin banget.

Memutuskan untuk jalan kaki? Oke ada beberapa tips:

  1. Akan banyak penawaran dan godaan untuk menghadapi “10 km” dan “tidak akan sampai” di sepanjang jalan oleh orang-orang yang menawarkan jasa ojek. Teguhkan hati, tegakkan iman, paling engga sempat 4 kali lah ada godaan untuk mengurungkan niat dan menggunakan jasa ojek. Kecuali kalau emang cape ya enakan duduk sih, grajak-grujuk dikit, plus 30rb, nyampe deh.
  2. Paling telat di Tahura jam setengah 4. Karena walaupun jaraknya cuma 5km, tapi jalannya nanjak dan licin! Kalau setiap kali Koya kepleset mereka dapet hadiah 1 tempe goreng, seumur hidup ga perlu jajan yang lain lagi, cukup sudah ngisi perut.
  3. Pakai sepatu kalau bisa, yang penting jangan sendal jepit kalau ga mau jempol sama telunjuk kaki ciuman sepanjang jalan.
  4. Bawa senter! Paling engga, kalau mau pake hape juga bisa buat terangin jalan, tolong, di-charge dulu. *lirik Mihe
  5. Takut anjing? Naik ojek aja mendingan…
500m Tebing Keraton
Pemberi semangat setelah berjalan kaki 2 jam. 300m lagih!

Lebih kurang butuh 2 jam buat jalan kaki dari tahura sampai ke puncak tebing keraton. Kalau anda berhasil, sela… Eh belum deng, bayar dulu uang masuk Rp. 11.000 dan lawan boss terakhir pejalan kaki terutama ketika di post-hujan momen. Sudah selesai kepleset-kepleset ria bersama? Selamat datang di tebing sosial media!

Tebing Keraton: Hati-hati galau
Efek samping tebing sosial media: Hati-hati galau menyerang seperti mas-mas bersweater hitam. Wajah di blur untuk privasi.
Tebing Keraton: Tangkuban Perahu menyambut
Tebing Keraton: Tangkuban Perahu menyambut

Tebing keraton ini posisinya menghadap ke barat, berkebalikan dengan Bukit Moko. Jadi kalau soal sunrise, Bukit Moko pemenangnya. Sayangnya belum pernah coba Tebing Keraton kala sunset. Pas sunrise aja udah ramai sekali, gimana waktu sunset? Dan lagi, spotnya tu secuil, beda dengan Bukit Moko yang memang spotnya itu warung dan menampung lebih banyak orang. Tebing Keraton ini kecil, dipagerin pakai bambu doank. Dan spot paling “tebing”nya tu ada 2, coba lihat mba-mba yang lagi duduk di ujung pada foto di bawah ini, itu salah satu spotnya.

Secuil Tebing Keraton
Semua berlomba mau check in dulu nih
Spot Tebing Keraton
Spot paling ujung, aura kegalauan meningkat drastis sampai Tempe ketularan efeknya, tahan Tempe... tahan…

Jujur aja memang dua spot ini bener-bener berbahaya, tapi masa udah jalan 2 jam nanggung banget ga ke ujungnya. Tapi ga usah aneh-aneh lah, waktu disana sempet ada yang nyoba bergaya kaki satu diangkat. Ga sekalian nyoba pose melayang? Siapa tau melayang beneran sampai Surga? Tips penting: sangat tidak disarankan untuk yang lagi patah hati!

Tebing Keraton: Tebing Narsis
Tebing Sosmed, Tebing Narsis, Tebing Tongsis, you name it.

Akhirnya, setelah sekitar 1 jam berputar-putar di spot yang sebetulnya kecil sekali, duduk sejenak juga setelah lelah berjalan 2 jam sambil nonton ada beberapa anak muda yang sedang membuat video amatir, mereka memutuskan untuk melaksanakan ritual paling sakral di puncak tebing keraton. Bukan, bukan bertapa. Bukan juga koprol di tepi tebing. Tapi: makan indomi! 

Melanjutkan perjalanan pulang memang selalu terasa lebih cepat daripada waktu berangkat. Semoga bukan cuma perjalanan pulang yang terasa cepat, tapi juga jumpa kita di perjalanan berikutnya.

Perjalanan pulang
Sampai jumpa dalam waktu dekat!
Iklan

3 pemikiran pada “Tebing Keraton a.k.a. Tebing Sosmed

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s