Hati yang Selalu Bahagia

(Setelah menceritakan berita bagus yang didapat pada hari ini kepada seorang teman)

Teman: Wah, pasti hati lu lagi bahagia banget kan sekarang?

Gw: Ah hati gw mah selalu bahagia kok

Teman: Asyik ya, gw berharap bisa punya hati yang kayak lu.

7 bulan sudah.

Hari ini ada sebuah cerita yang ingin dibagikan, didedikasikan untuk betapa uniknya kamis ini.

Apakah iya hati kita harus kita paksa untuk membedakan waktunya bahagia dan tidak? Ga bisa ya kita bahagia setiap saat? Bukan gila ya maksudnya..

Dalam sebuah khotbah di salah satu Hari Minggu, pernah dikatakan bahwa kita itu bisa kok berbahagia setiap saat. Ga perlu tuh kita harus kaya dulu, harus sukses dulu, poinnya cuma mensyukuri apa yang ada di sekitar kita setiap saat, karena pasti ada yang bisa kita dapatkan kalau kita berani melihat diri kita saat ini, alih-alih mengingat masa lalu yang penuh dengan penyesalan atau masa depan yang masih tidak jelas.

Dari dulu selalu terpendam keinginan untuk bisa berkarya di gedung bertingkat, paling engga tuh gedung harus punya rooftop lah..

Dan beruntungnya, beberapa bulan terakhir pekerjaan menuntut untuk bermarkas di gedung yang memenuhi kualifikasi tersebut. Lebih oke lagi, gedung disekitarnya belum ada yang setinggi gedung satu ini.

Lalu apa hubungannya dengan renungan tentang kebahagiaan setiap saat tadi? Sabar dulu..

Yap, walaupun sudah diketahui bahwa gedung ini seharusnya punya rooftop, tapi belum ada teman kantor yang bisa memberikan jawaban pasti apakah rooftop itu bisa diakses bebas atau tidak. Dan awalnya pun hati ini kemakan keraguan tersebut yang mengakibatkan hilangnya keinginan untuk naik.

Sampai suatu saat, dari jendela lantai tempat bekerja melintas pantulan sinar matahari pada saat sore. Ketika ditengok sejenak, bagus juga pemandangannya.

Akhirnya memberanikan diri juga, tanya teman kanan-kiri, sama sekali tidak ada yang berminat. Ya sudah, udah pengen banget nih coba lihat dari rooftop.

Dan betul saja loh, penyesalan langsung muncul ketika itu, kenapa baru sekarang naik ke puncak gedungnya? Padahal bebas sama sekali tidak ada yang jaga, pemandangannya sih memang bukan sunset di pantai atau di gunung ya, tapi pemandangan sebagus ini cuma berjarak 5 menit dari tempat menghabiskan waktu sepanjang hari, bukankah sayang untuk dilewatkan?

Setelah itu, ketika sedang tidak hujan, seringkali menghabiskan waktu disana ketika matahari akan terbenam. Dan melalui cerita itu, akhirnya ada juga teman yang penasaran dan mau ikut naik. Pastinya, sesuai dugaan, dia pun tergugah dengan pemandangan disana sampai tak berhenti-berhenti mengambil gambar dengan hapenya. Walaupun sayangnya, karena sedang musim hujan, cuaca seringkali berawan. Tak apa, mari syukuri masih diberi kenikmatan ini..

Permata Bintaro Sunset
Aku melihat, di balik awan..

Hal yang menarik, di hari lain saat sedang tidak bisa naik ke rooftop, teman yang tadi ikut naik ternyata ketagihan untuk melihat lagi pemandangan sunset dari atas, kali ini mengajak teman yang lain lagi, yang awalnya sama sekali tidak tertarik dan hanya menitipkan hapenya saja untuk menjadi saksi baginya. Bahkan, beberapa hari kemudian ia berbangga bahwa sunrise dari depan rumahnya juga terlihat sangat indah dengan memamerkan sebuah foto yang ia dapat. Percaya kok, bro!

Oh ya, walaupun tedengar demikian, ini bukan promosi MLM ya… Santai…

Oke, memang dari atas gedung kita mungkin tidak bisa mendapatkan yang seindah kalau kita menikmati dari Pantai Kuta, Jimbaran, atau bahkan seindah sunrise di Pantai Marina Semarang. Hei, untuk menjadi bahagia, tidak perlu tergantung pada tempatnya bukan?

Lalu apa donk kesimpulannya?

Kebahagiaan itu pilihan! Setiap saat, setiap momen, dalam keadaan apapun, kita bisa memilih untuk bahagia. Tidak perlu melupakan terlebih dahulu kesulitan di masa lalu, ataupun mencoba sama sekali tidak peduli dengan masa depan, hanya perlu memilih untuk melihat sekeliling kita saat ini juga, karena pasti selalu ada hal yang bisa kita syukuri.

Kalau benak ini tidak pernah memilih untuk mencoba naik ke rooftop, tidak akan pernah mata ini menyaksikan bahwa ada keindahan yang tersembunyi dan bersedia menghibur setiap sore setelah lelah suntuk bekerja. Lebih baik lagi, ternyata kebahagiaan itu bisa dibagikan juga ke orang lain di sekitar kita.

Yah, itulah yang sangat disayangkan, dari sekian banyak orang yang bekerja di gedung tersebut, sama sekali tidak pernah ada yang terlihat bersama-sama menikmati matahari terbenam sejenak. Atau mereka sudah bosan? Tidak mungkin…

… (continue)

Gw: Hei, gw yakin kok lu udah punya hati yang bisa selalu bahagia kayak gw. Cuma sayangnya, lu memilih untuk tidak memanfaatkannya.

 

Oh ya, ini ada 2 foto lagi yang didapatkan pas kebetulan saat itu cuacanya cerah, hadiah buat yang bersedia membaca sampai akhir. Enjoy.

 

Sunset Bintaro
Keindahan di sekitar kita…

 

Sunset Bintaro Night
No Filter needed

2 pemikiran pada “Hati yang Selalu Bahagia

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s