(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Sesuai awal post sebelumnya, ada 3 hal yang ingin mereka lakukan selama 2 hari Sabtu – Minggu ini. Dan, sesuai akhir post sebelumnya, juga, 1 diantaranya sudah gagal karena ternyata pulau kapuk lebih menggoda:

  1. Naik bus pariwisata werkudara yang cuma beroperasi pada Sabtu dan Minggu pada jam 12 siang.
  2. Ke pecinan Semarang yang digelar hanya pada Jumat, Sabtu, dan Minggu
  3. Ke tawangmangu, yang mana membutuhkan waktu 2,5 jam untuk sekali jalan solo-tawangmangu dan tawangmangu-solo

Keesokan paginya, seolah tabu, tidak ada yang membicarakan apa yang baru terjadi subuhnya. Semuanya tahu, semuanya menanggung malu. Ngakunya ngebet banget ke tawangmangu, cuih…

Ya udah, ambil positifnya aja lah, sekarang mereka punya banyak waktu luang untuk berkelana di Kota Solo, sebelum jam 12 nanti harus naik werkudara yang udah dipesan sebelumnya.

Bye bye, tawangmangu…

Restoran Sala Asri

Punya banyak waktu sih emang banyak, tapi ga bangun jam 9 siang juga kali!

Beginilah akibatnya kalau tidak mengikuti jadwal, molor-molor semua, kelewat semua. Waktu yang berharga jadi terbuang gara-gara dihabiskan cuma tidur-tiduran dan malas-malasan. Sesekali sih ngeteh juga, berhubung hotelnya nyediain tempat ngeteh yang 24 jam gitu.

Akhirnya, dengan semua tenaga yang tersedia, mereka berhasil mengeluarkan diri juga dari hotel untuk mencari sarapan. Sekarang sudah benar-benar di luar jadwal padat cem artis, jadilah bingung bukan main. Jalan kesana kemari di Slamet Riyadi, kebetulan terlintas sebuah plang restoran di pinggir jalan, kayaknya sih tempat makan kecil. kayaknya…

Ternyata oh ternyata, sebuah restoran besar menunggu di ujung plang penunjuk nama restoran itu: restoran sala asri. Uniknya, walaupun baru buka banget (jam 9 pagi), tapi udah ada beberapa keluarga yang makan disitu. Boleh juga nih, harusnya sih enak. Oh ya, sebelum mengomentari makanannya, suasanya sendiri sih nyaman banget. Semacam ada taman luas lengkap dengan jalan setapak romantis-romantis gitu, terus ada latar belakang grafiti pemandangan yang bisa buat foto-foto. Duduknya juga ada yang lesehan, jadi kalau soal tempat sih bintang lima!

Moga-moga harganya engga bintang lima juga deh…

Menu makanannya juga unik, cuma ada 3: timlo, rawon, dan soto. Berhubung pas 3, ya udah jadinya mereka masing-masing pesan makanan yang berbeda: Tempe dengan rawon, Mihe dengan soto, dan tentu saja Koya akhirnya mendapatkan Timlo yang gagal ditemukan malam tempo hari. Makanannya sih biasa aja ya, tapi memang bukan disitu kok poin utamanya!

Koya asik nyobain gorengan
Tumpukan gorengan yang berumur pendek

‘itu meja sebelah, ibu-ibu makan gorengan, apaan ya? Kayaknya enak..’ tiba-tiba Koya nyeletuk selagi menunggu makanan tiba

mas-mas, kalau gorengan gitu apa ya disini?’ Tempe mencoba bertanya dengan pelayan yang kebetulan sedang mengantar minuman

oh gorengan, ada sosis…’ kata pelayan pede.

sosis? ga salah denger nih?

mereka bertiga menampakkan muka yang sama: kebingungan

itu bisa pesen?’ kata Tempe mencoba mencari pencerahan

diambil saja mas, di meja sebelah sana..’ jawab pelayan sambil menunjuk ke arah dalam restoran.

terima kasih Mas!’

Langsung saja, tanpa briefing, Koya langsung meluncur ke TKP. Balik-balik udah bawa tumpukan gorengan. Awalnya dia semua yang makan tuh gorengan, dan dia selalu bilang ‘enak!’, ‘ini juga enak!, atau ‘wah ini paling bahagia!’ dst..

Tempe dan Mihe sih awalnya merasa biasa saja, emang si Koya ini kalau udah urusan gorengan pasti diraup sampai ludes dan bilang enak kok… Tapi akhirnya Mihe mencoba 1 dan ternyata ia juga mengatakan bahwa gorengannya enak! Jadilah Tempe juag asik menikmati gorengan, walau cuma kebagian 2 doank. Mihe juga cuma kebagian  2, sementara Koya? Entahlah mungkin 6 atau 7? Piringnya diitung ga?

Mukegile Bill
Muke gile, doyan apa doyan sih gorengan 30ribu?

Nah, petualangan di sala asri tidak selesai sampai situ. Tentu saja sebagai pelanggan yang baik, setelah menghabiskan makanan sekarang waktunya membayar…

Udah takut-takut nih harganya mahal, ternyata keseluruhan makanan yang dipesan totalnya cuma Rp.31.500,- aja. Fyuh…

Oh ya, tambahannya gorengan ya… 1 piring habis’

Semuanya jadi.. 65 ribu 5 ratus..’

He, ga salah denger nih? Gila juga ni orang tiga, gorengannya lebih mahal daripada makanan utamanya!

Sambil membayar makanan, tentu saja mereka bertiga menertawakan apa yang baru saja terjadi. Jarang-jarang kan bisa makanan tambahan lebih mahal daripada makanan utama, tapi tetap layak banget kok, soalnya gorengannya emang enak-enak! Oh ya, ternyata yang dimaksud sosis itu gorengan juga, bukan literally sosis yang digoreng, ada-ada aja…

Solo Citywalk

Asik banget ga sih namanya: citywalk. Harus dicobain banget.

Sebenarnya yang dimaksud sebagai jalan-jalan kota (citywalk) di Solo itu adalah sepanjang jl. Slamet Riyadi. Yap, jalan yang sama seperti waktu malam lalu berangkat ke Galabo. Menurut peta, panjangnya lebih kurang 7km. Walaupun malam yang lalu sudah berjalan sedikit, tapi tokonya kan banyak yang tutup, jadi mereka memutuskan untuk berjalan-jalan lagi aja deh…

House of Danar Hadi
Surabaya ada House of Sampoerna, Solo punya House of Danar Hadi!

Tidak banyak yang bisa dilihat, sepanjang jalan ya ditemani toko-toko biasa, sebentar-sebentar sambil terlihat gerobak makanan kecil. Agak jauh ke barat, ada salah satu museum yang nyata-nya sudah mengundang banyak pengunjung, yaitu museum batik danar hadi. Tapi sayang sekali, mereka bertiga tidak bisa masuk museum karena sedang ada rombongan yang berada di dalam museum. Ah, lagipula ga bisa foto-foto juga di dalam museum yang satu ini, ga ada yang bisa dipamerin donk, hehe..

Tapi kalau masuk ke tokonya masih boleh, walaupun sama juga ga boleh foto sama sekali. Barang-barang yang dijual ya udah pasti… batik. Ga cuma baju kok, ada pernak-pernik lain juga. Ada tas, sepatu, gantungan kunci, dkk dsb dll… Yah, walaupun harganya juga tidak semurah itu sih..

Gagal beli oleh-oleh di danar hadi berhubung harga yang kurang mendukung, waktunya cari tempat oleh-oleh yang lain sambil menyusuri citywalk lagi, sekarang nyoba disisi lainnya supaya dapet suasana baru. Pas lagi menyusuri citywalk, ketemu sebuah grafiti yang cukup unik. Memang deh, biasanya grafiti isinya adalah kritik, rasa cemas, atau hinaan buat orang lain, tapi goresan asal yang 1 ini menarik perhatian karena seolah dituliskan dari hati mereka bertiga. Perasaan sederhana setelah ternyata berhasil menempuh keliling jawa sudah sejauh ini, dengan berbagai pengalaman yang sudah didapatkan: we are so happy!

sebenarnya ada emot smiley-nya juga di sebelahnya, tapi tidak tertangkap kamera karena keterbasan ukuran foto, hiks.

We are so happy
Pretty much sums up our feelings!

Lanjut lagi…

sambil diiringi guyonan sepanjang jalan, menghabiskan waktu, mencoba mencari keunikan lain Kota Solo. Dipikir-pikir, memang kota ini bukan kota besar, lebih cocok sebagai kota yang bersahaja. Jalanan yang kecil, orang-orang yang senang berkumpul, dan kuliner yang beraneka ragam, Solo sangat pas untuk bersantai sejenak di tengah kepenatan, sama sekali bukan tempat untuk mencari kepenatan itu sendiri. Ketenangan yang diberikan, walaupun diganggu tawangmangu yang harus batal karena keasikan bersantai di pulau kapuk, Solo pantas mendapatkan gelar sukses!

Slamet Riyadi
Solo tahun 80an?

Di ujung jalan Slamet Riyadi terdapat sebuah patung berbentuk orang, kira-kira patung siapa coba pasti pada ga tau deh? Emang ga mungkin banget bisa nebak!

Patung tersebut adalah patung dari Slamet Riyadi! Beliau adalah salah satu pencetus dari satuan Kopassus, tentara elit Indonesia dan termasuk yang terbaik loh di dunia! Sekarang kalian tahu, berterimakasihlah…

Nah, selain patung yang sulit ditebak itu, ada juga toko oleh-oleh, walaupun pilihannya ga banyak tapi harganya masih lebih bersahabat kok. Dengan bertemunya toko oleh-oleh, maka solo citywalk sudah berhasil mereka taklukan!

Rencana berikutnya adalah bus werkudara jam 12 siang, nah berhubung sekarang sudah jam 11 juga, sekalian check out dulu dari hotel. Beruntung sekali penjaga hotel yang baik bersedia menelpon taksi untuk menjemput mereka, padahal susah sekali untuk mendapatkan taksi, berhubung kala itu weekend dan hotline taksi terus menerus gagal dihubungi.

Ayo naik bus tingkat!

Bus Werkudara

Namanya unik ya, dan memang cocok, karena bus pariwisata ini unik sekali! Padahal konsepnya jelas-jelas bagus, sebuah bus yang mengantar turis berkeliling kota, tapi kenapa cuma Solo yang bisa menjalankan ya sejauh ini melintasi Jawa?

Harga tiket bus werkudara Rp. 20.000,- / orang

Naik dari dinas perhubungan kota Solo, dekat dengan Stadiun Manahan.

Durasi perjalanan lebih kurang 2 jam.

Tersedia hanya Sabtu dan Minggu, jam 9, 12, dan jam 3 sore. Tapi hati-hati! Seringkali ada trayek yang di book satu bus sehingga tidak dibuka untuk umum. Jadi pastikan dulu jadwal yang diinginkan tersedia atau tidak..

Tips penting pesan dulu tiketnya sebelum naik! Paling tidak, 1 hari sebelumnya. Kejadian nyata: karena tidak mendapat tiket, setiap orang yang mencoba membeli on the spot tanpa memesan terlebih dahulu terpaksa mendapat tiket TTD alias Tanpa Tempat Duduk. Lesehan di bus tingkat? Kuraaang…

Bus Werkudara
Pintu bus tingkat werkudara, Mihe ngintip siapa tu?

Secara umum perjalanan tidak terlalu spesial sih, info-info yang didapatkan dari guide juga tidak terlalu banyak. Bus ini akan berhenti sejenak di gedung Bank Indonesia untuk menyediakan waktu bagi yang ingin berfoto dengan bus. Selain itu, putar balik dilakukan di kebun binatang Solo.

Nanti yang duduk di atas akan diminta bertukar tempat dengan yang dibawah. Walaupun sebetulnya, tidak tukar pun tidak apa-apa karena kursi yang di bawah jumlahnya lebih sedikit sehingga ada yang diminta naik lagi ke atas. Tipsnya sih, mendingan di atas terus aja, enak. Tapi hati-hati juga sama ranting-ranting pohon ya!

Solo Balapan dan Tirtonadi lagi

Betapa sebentar ya waktu di Solo, sebenarnya ingin tambah lagi, karena masih banyak kuliner-kuliner dan tempat-tempat yang belum sempat dijelajahi, salah satunya tentu saja tawangmangu. Tapi tidak apa, semua indah pada waktunya bukan? Sekarang waktunya mereka bertiga mengejar bus ke Semarang, supaya bisa tetap menikmati pecinan yang cuma buka hari Jumat, Sabtu, dan Minggu malam.

Stasiun Solobalapan
neng setasiun balapan, kuto solo seng dadi kenangan!

Tentu saja, sebelum berangkat naik bus yang masih juga belum tau namanya apa, mereka menyempatkan dulu berpose di depan stasiun solo balapan. Salah satu tujuan utama berkunjung ke kota Solo. Dengan foto-foto tersebut, dengan ini mereka dapat menyanyikan lagu stasiun balapan secara sah! Asik!

Setelah puas berfoto dan mengagumi Stasiun Balapan, waktunya mengucapkan..

sampai jumpa lagi! Mau namamu Solo atau Surakarta, buat kami, apalah arti sebuah nama jika kenangan yang diberikan sudah begitu berharga!

Next time, harus tawangmangu!

Mereka berangkat ke Semarang menggunakan bus Royal Rajawali dari terminal tirtonadi, perlahan di tengah kemacetan yang menghadang, berdoa supaya bisa lekas tiba Semarang dan menikmati Semawis yang sudah duduk manja menunggu kedatangan mereka.

Apakah mereka berhasil mencapai Semarang dalam waktu yang tepat?

4 pemikiran pada “Solo – Part 2: We are so happy…

  1. Bs jd referensi nih mas buat ke solo bsk tgl 19 nov. Lg bingung brgkt sm plg naik apa enaknya, stlh bc blog ini jd mkir 2x klau mau naik bis hahaha

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s