(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Lampu gemerlap kota Malang terlihat jelas dari atas sepeda udara, membuat mereka bertiga berharap wahana yang satu ini takkan pernah berakhir. Tapi kasihan si Mihe, lama-lama bisa puyeng dia keasyikan dugem di tengah dinginnya BNS. Ngomong-ngomong, lagunya sepeda udara ini kenapa metal banget yak. (mengacu ke video di post sebelumnya)

Asik banget tadi lo di atas bisa dugem,’ sahut Tempe kepada Mihe sambil ketawa-ketawa menyindir,

Ini semua gara-gara kalian!’ tiba-tiba Mihe berteriak sambil menunjukkan emosi marah. Kontan saja Tempe dan Koya kebingungan, apa salah kami?

Tak disangka, si Mihe pun kebingungan kenapa lampu sepedanya kedap-kedip sendiri. Menurutnya, semua kontrol ada di sepeda yang di depan, yang ditumpangi Koya dan Tempe. Di dekat setir sepeda Tempe dan Koya terdapat beberapa tombol yang tidak jelas fungsinya apa. Selama perjalanan, kerjaan mereka adalah asal-asal pencet tombol-tombol gak jelas itu. Ternyata oh ternyata, itu adalah pengendali lampu dan lagu yang ada di sepeda udara. Sayangnya, mereka baru sadar setelah turun. Maaf ya Mihe, tapi asyik juga kan?

Sambil terbayang pemandangan indah Kota Malang dari kejauhan, penjelajahan BNS kembali dilanjutkan.

Taman Lampion

Di loket yang sama dengan sepeda udara, mereka membeli tiket masuk taman lampion seharga Rp. 12.500,-/orang. Tiket taman lampion ini sama kayak model Jatim Park, bentuk gelang gitu. Taman lampion, seperti namanya, ya isinya lampion. Kerennya, lampion-lampion itu dibentuk dalam berbagai keunikan dan ukuran. Spot yang sempurna buat foto-foto, walaupun sayangnya kamera yang mereka bawa ternyata mengecewakan dalam mengambil gambar di keadaan gelap. Koya yang mengaku fotografer profesional terus menerus menyatakan penyesalannya karena tidak membawa kamera SLR. Ya ilah, tas isinya bantal doank aja…

Mihe Galau 1
“Bangku sebelahku kok. kosong ya, seperti hatiku”
Mihe Galau 2
“Ini hatiku, mana hatimu?”

Begitu lewat pintu masuk taman lampion, satu suasana langsung terasa diantara mereka bertiga: galau. Berbeda dengan sepeda udara, disini latar belakang musiknya romantis-romantis gitu, ditambah pula suasana remang-remang ditengah udara yang sejuk-sejuk manja gitu. Bentuk lampionnya pun banyak yang memperburuk gundah gulana bagi mereka yang melihat dengan hati yang kosong. Mihe yang masih berada di bawah pengaruh dugem dan lagu metal tak sanggup menahan perih yang terasa dan berkali-kali lepas kontrol ketika difoto.

Neng, neng, kamu pasti asalnya dari Malang ya? 

Loh, abang kok tau?

Soalnya, tiap hari abang bawaannya pengen Apel-in kamuu terus… 

Bom Bom Car

Ayo cepat keluar dari tempat ini sebelum Mihe menggebet semua wanita yang ia temui…

Koya naik Bom-Bom Car
Pose peace setelah asik nabrak-nabrakin anak orang.

Suasana galau tiba-tiba menghilang ketika keluar dari taman lampion, waktunya nabrak-nabrakin orang! Permainan yang satu ini merupakan wahana favorit Koya, ga tau kenapa. Mungkin sebenarnya dia berbakat menjadi seorang pembalap, srikandi sirkuit semacam Alexandra Asmasoebrata. Atau justru kemampuan menyetirnya terlalu buruk, sehingga selalu menabrak orang? Yuk deh, kasian si Koya sampai memohon-mohon, mereka akhirnya memutuskan untuk menikmati wahana bom bom car

Waktu mau mengantri, tampaknya sepi sekali ini wahana, bisa-bisa naik bertiga doank?

Dan beneran lah! 

Jadilah mereka bertiga semacam bocah-bocah kampung sebelah, naik bom-bom car bertiga doank. Koya malah seneng banget, kerjaannya nabrak-nabrakin Mihe yang kembali ceria setelah dirundung perasaan sendu. Sementara Tempe, bukannya nyetir malah keasyikan foto-foto muka bahagia Koya dan Mihe.

Oh ya, tiket masuk wahana bom-bom car ini harganya Rp. 12.500,-/orang juga.

Robocop edisi PHP

Kalian pernah ke dufan? Wahana apa yang antriannya selalu paling penuh? Mungkin kalau ada yang ingat, sekitar 10 tahun lalu di dufan ada sebuah wahana yang spektakuler, bombastis, dan cetar membahana: Robocop.

Itu loh, nonton film di layar gede terus kursinya ikutan goyang-goyang, tahu ga?

Dari antara mereka bertiga, cuma Mihe yang tidak tahu mengenai Robocop. Berarti, 2 dari antara 3 orang tahu mengenai wahana yang satu ini, kalian salah satunya?

Di BNS sendiri terdapat sebuah bangunan yang bertitel “Cinema 4D” dan tampaknya cukup menjanjikan.

Cinema 4D
Mungkinkah Robocop kembali?

‘Mungkinkah ini adalah comeback dari wahana legendaris, robocop?’, tanya Tempe dalam hati.

Harga tiket masuk wahana Cinema 4D adalah Rp. 12.000,-/orang. Dan yang menarik mengenai wahana ini, buat sekali puter filmnya, minimal harus ada 10 orang. Mungkin karena biaya listriknya mahal kali ya. Untungnya kala itu udah cukup banyak yang menunggu untuk ikutan nonton film ini, jadi mereka bertiga bisa langsung ikutan ngantri… Buruan! Robocop! Kursi goyang!

Ngantri lama, kok ga dibuka-buka filmnya? Padahal durasi setiap kali film diputer adalah 20 menit, tapi ini udah setengah jam ga masuk-masuk juga. Ada apakah gerangan? Ternyata, mereka mengikuti rombongan yang teledor! Ngantri aja pakai salah tempat! Ya ampun, jangan-jangan pada galau juga gara-gara taman lampion..

Pas masuk ruangannya, wuah ini nih! Robocop! Air mata mengalir perlahan mengiringi nostalgia dalam benak Tempe. Layarnya sih ga terlalu besar, tapi kursinya menjanjikan sekali. Langsung aja Tempe melompat ke posisi duduk paling nyaman sambil mengenakan kacamata 3D. Buruaaaaan! 

Oh ya, untuk pemutaran kali ini film yang diputer judulnya hovercraft, semacam balapan motor terbang gitu.

Akhirnya, film dimulai, dan kursi mulai bergoyang!  Tapi.. tapi… kok goyangannya kurang maut sih? Kok… kok… robocopku mana… Ini mah kayak naik kursi goyang kakek-kakek gitu doank…

Air mata Tempe merangkak masuk lagi ke dalam matanya, penantian kali ini sia-sia

Memang tak akan ada yang bisa menggantikan robocop, jasa-jasanya kan selalu membekas dalam hati kita semua…

Dancing Fountain

Tempe butuh pelarian dari perasaan kecewa yang sedang ia rasakan, tapi apa? Saat ini sudah sekitar jam 10 malam, hampir setiap wahana di BNS mulai ditutup. Apakah perasaan ini harus dibawa sampai tidur nanti malam?

Untungnya, tidak.

Dalam perjalanan keluar dari BNS, terlihat dari kejauhan ada air yang melompat kesana kemari, diiringi gemerlap warna-warni lampu di tengah gelapnya malam, pun diiringi alunan musik yang tidak kalah metal daripada lagu dugem Mihe di atas sepeda udara. Pada waktu-waktu tertentu, ternyata BNS menyuguhkan dancing fountain yang keren banget. Dan untungnya, malam ini, keindahan air mancur bergoyang yang ditampilkan sudah cukup untuk mengobati pilu di hati Mihe dan rasa kecewa di benak Tempe. Terima kasih!

“Kamu jutek, kamu katrok. Kamu rese, kamu ndeso…” – dancing fountain BNS

Selalu mengagumkan ketika melihat sekelompok orang sekedar duduk dan menikmati sesuatu bersama tanpa perlu berkata-kata. Slow down, kadang-kadang kita hidup terlalu terburu-buru, sehingga hal-hal sederhana yang sebenarnya patut disyukuri di sekitar kita pun terlewat begitu saja.

Selamat Malam!

Seorang Bapak yang familiar sudah menunggu mereka bertiga di pintu masuk BNS. Seperti sudah direncanakan sebelumnya, perjalanan kembali ke hotel dari BNS akan ditempuh kembali bersama ojek yang sama dengan sewaktu kedatangan. Buat teman-teman yang ingin mengunjungi BNS dengan ojek, terutama pada saat pulang, coba buka mata lebar-lebar selama perjalanan. Ada satu jalanan dengan sisi yang terbuka, memamerkan kilau Kota Malang di malam hari. Menyesal sekali tidak sempat menikmati suasana itu sedikit lebih lama, ditambah lagi ada 2 gunung yang seolah melipir di dekat Kota Malang, mengucapkan “selamat malam!” sambil tersenyum kepada siapapun yang memandang kepadanya.

Pak, itu gunung apa ya?’, tanya Tempe penasaran

Gunung Arjuna dan Penanggungan,’

Kota Malang, dengan segala keunikannya, serta Jatim Park dan BNS, dengan berbagai hiburan yang diberikan, mungkin mampu memberikan titel sukses buat perjalanan di Kota Malang. Tapi, bisa melihat karyaNya yang begitu indah di tempat yang sangat tidak terduga, dengan mata kepala sendiri, sudah cukup untuk meningkatkan Kota Malang meraih predikat sukses pecah!

Toko Oen

Tentu saja setelah melewati hari yang sangat melelahkan, begitu tiba di hotel mereka bertiga langsung tepar tanpa mampu banyak berucap. Paginya, mereka disambut oleh sarapan yang diantarkan ke kamar, nasi goreng disertai teh atau kopi. Seruput-seruput dan nyam-nyam, sekitar jam 8 pagi mereka bertiga check out dari hotel untuk kembali menuju stasiun Malang dan menyambut Surabaya!

Perjalanan pulang dari Batu ke Malang dapat ditempuh menggunakan angkot yang sama, yaitu angkot berwarna pink. Eits, tapi setelah tiba di Landungsari, mereka tidak mengambil angkot AL/ADL. Ada 1 tempat lagi yang ingin dikunjungi di Malang. Menariknya, dari berbagai referensi yang didapatkan, banyak yang menyebut dan mengagumi toko es krim yang satu ini. Padahal kalau dicari-cari lagi, Toko Oen ini juga ada kok di Semarang.

Interior Toko Oen, Malang
Interior Toko Oen, suasana layaknya jaman kumpeni.

Belum ke Malang kalau belum ke Toko Oen, kata berbagai referensi. Ya udah, yuk sambangin dulu, siapa tahu bisa bikin Kota Malang jadi sukses pecah bahagia semacam Jogja?

Dari terminal Landungsari, angkot yang digunakan untuk menuju Toko Oen adalah LDG. Turunnya sebelum alun-alun, dengan Toko Oen ada di sebelah kanan jalan.

Tidak ada yang spesial dari bentuknya. Walaupun suasana lawas masih bisa terasa, tapi sisanya biasa-biasa saja. Dan lagi, sebenarnya toko ini bukan toko es krim saja kok, tapi banyak makanan berat juga yang bisa dinikmati, misalnya steak. Tapi tentu saja, andalan disini adalah eskrimnya yang diklaim tidak menggunakan pengawet. Harga per porsi es krim lebih kurang Rp. 20.000,-.

Es Krim Toko Oen
#foodpic #like4like #maem #eskrim #enak #oen

Tidak pakai lama, mereka bertiga memesan es krim pilihan masing-masing. Dari nama-namanya sih kayaknya enak…

Ternyata bukan nama-namanya saja yang terdengar enak, tapi rasanya juga mantap! Kalau diibaratin seorang wanita, ini cantik luar dalam walaupun tanpa make up. Jadilah, bagaikan sebuah iklan susu, mereka bertiga menghabiskan es krim masing-masing sampai tetes terakhir.

Sayangnya, walaupun memang es krim Toko Oen ini begitu kalem di lidah namun bergetar di hati, tapi mereka sepakat gelitik ini belum mampu meningkatkan predikat Kota Malang. Dengan ini, Kota Malang dinobatkan sebagai sukses pecah!

Kembali ke Stasiun Malang Kota Baru

Setelah membayar di kasir, mereka bertiga memutuskan untuk mengunjungi alun-alun Kota Malang sejenak. Tetapi berhubung hari itu Hari Jumat, sedang ada banyak yang bersiap untuk Ibadah Sholat Jumat, sehingga kondisi alun-alun dipenuhi oleh pedagang. Ya sudah, mampir saja deh.

Perjalanan dari alun-alun ke stasiun pun tidak terlalu jauh, sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan kembali ke stasiun. Mereka bertiga tiba di stasiun sekitar pukul 10.30, dan bersiap untuk melanjutkan ke Surabaya menggunakan KA Penataran yang akan berangkat pada pukul 12.00. Setelah 2 kali menikmati kelas eksekutif, kini saatnya mereka menjajal kelas ekonomi. Asyiknya, tarif kereta api yang satu ini hanya Rp. 4.000,-/orang, lebih murah dari tarif angkot ke Kota Batu.

Selamat jalan untuk kali ini wahai Kota Malang, sampai berjumpa lagi lain kali, semoga cepat-cepat beruntung!

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s