Malang – Part 1: Udang di balik Batu

(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Biasanya Tempe adalah pria sejati yang mudah move on, tapi tidak kali ini. Selama berjalan ke stasiun, yang ada di benaknya cuma Tempe Goreng… Tempe Goreng… Mihe dan Koya pun cuma bisa menepuk pundaknya sesekali, mencoba membantu meringankan beban yang begitu berat karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.

So long, tempe goreng.. (mengusap air mata, melambaikan sapu tangan)

Mari kita sambut Malang!

Kembali ke Stasiun Tugu

Depan Stasiun Tugu Jogjakarta
Dadah Jogja, sampai lain waktu!

Sekarang kalian pasti mengerti kenapa mereka takut Jogja adalah klimaks dini. Perencanaan yang nyaris sempurna, tempat-tempat yang begitu luar biasa, dan tempe goreng + kopi joss yang… ah… Begitu sedih harus meninggalkan Jogja, tapi mereka percaya, Malang tidak akan mengecewakan mereka…

Stasiun Tugu ternyata Cagar Budaya
Sebuah cagar budaya yang fungsional! Keren!

Sebelum masuk ke ruang tunggu, mereka mencoba menikmati apa yang telah dilewatkan di hari sebelumnya. Kalau pembaca ingat, di hari sebelumnya mereka terburu-buru meninggalkan stasiun tanpa banyak mengamati sekeliling. Kali ini, mereka memanfaatkan waktu kosong yang tersedia.

Ada satu gantungan yang menarik di dalam stasiun Jogja, terletak di dekat pintu masuk stasiun, bagian dalam. Ternyata, stasiun kereta api tugu yogyakarta merupakan sebuah cagar budaya! Wah, ga heran sih, memang bangunan tua ini masih terkesan dijaga dengan baik, dan sudah seharusnya demikian.

Lalu, apakah malabar atau malioboro ekspress yang beruntung ditumpangi 3 orang ini untuk menuju Malang? Sebenarnya mudah menebaknya: cari aja yang lebih murah tiketnya. Dan pilihan jatuh kepada, Malioboro Ekspres! Keretanya sendiri akan berangkat pukul 22.15, dan dijadwalkan tiba di Malang pada pukul 05.30. Nah, berhubung perjalanannya sendiri cukup lama, mereka bertiga memutuskan untuk mengambil kelas eksekutif, beda harganya juga dikit. Malioboro Ekspres cuma punya 2 kelas: eksekutif (Rp. 100.000,-/dewasa) dan ekonomi (Rp. 80.000,-/dewasa), dan katanya sih ini termasuk kereta baru.

Apakah akan tepat waktu? Kita lihat saja..

Malioboro Ekspres

Sekitar jam setengah 10, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kereta, untuk kemudian kira-kira jam setengah 11, kereta pun meninggalkan stasiun tugu di tengah kegelapan malam. Berhubung sama-sama kelas eksekutif, mirip-mirip deh kondisinya sama lodaya malam yang mereka naiki saat menuju Jogjakarta. Tapi, kok ga ada selimutnya? Oh ternyata selimutnya dibagikan di tengah jalan nanti.

Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai apa yang mereka lakukan selama di kereta, soalnya secara kompak mereka bertiga: tidur! Iyalah, beda sama perjalanan kereta sebelumnya, kali ini mereka lelah jiwa raga…

Oh ya, ada deh 1 kejadian menarik yang diceritakan oleh Koya. Berhubung lagi-lagi dia kebagian tempat duduk yang terpisah dari Mihe dan Tempe, iya harus duduk dengan orang lain di sebelahnya, dan kebetulan orang lain itu duduk di sisi yang dekat jendela.

Alkisah, menurut Koya, mas-mas yang kurang beruntung di sebelahnya itu tidak tenang selama perjalanan. Apakah karena keanggunan Koya saat tertidur? Mana mungkin… Koya bercerita bahwa sepertinya penumpang di sebelahnya itu menahan buang air hampir 3 jam! Kenapa? Kebetulan Koya yang sedang asik tertidur menutupi jalan keluarnya, ditambah lagi ternyata pria yang kira-kira berumur 20 tahun itu tidak berani membangunkan Koya. Padahal, menurut pengakuan Koya, petugas kereta yang ingin memberikan selimut saja cuma perlu sekali toel untuk membangunkannya. Oh kashian sekali, ada ga sih rekor dunia nahan kencing terlama? Siapa tahu orang ini menang?

Pada saat Koya terbangun sejenak dan membukakan jalan, akhirnya mas-mas tersebut berhasil lolos dari belenggu Koya, pergi ke toilet, dan melepaskan hasratnya untuk buang air kecil. Setelah kejadian menyiksa itu, ia memutuskan untuk duduk di bangku lain, yang tidak lagi tertutup oleh Koya.. Lebih tepatnya ia duduk di bangku belakang Koya yang kebetulan kosong. Pilihan yang tepat.

Stasiun Malang Kota Baru

Malioboro Ekspres Parkir di Stasiun Malang
Malioboro Ekspres Parkir di Stasiun Malang

Dan ternyata, keretanya tidak tepat waktu, tapi… lebih cepat dari yang dijadwalkan! Gile, sebagai orang Indonesia yang udah hidup di negri ini sekitar 20 tahun lamanya, Tempe tahu betul bahwa hal semacam ini adalah keajaiban besar dan patut mendapat apresiasi mendalam.

prok prok prok.

Malioboro Ekspres berhasil touchdown di Malang sekitar jam 5 pagi, lebih cepat setengah jam dari yang dijadwalkan. Kesan pertama yang muncul: diinngiiin bro… Berhubung berangkat dari Jogja yang dikenal dengan kota gerah, Malang langsung menyambuk mereka dengan udara yang sejuk-sejuk empuk gimana gitu. Waktu tiba sih keadaannya masih gelap, masih belum kelihatan apa-apa. Belajar dari pengalaman, daripada terburu-buru keluar stasiun dan tidak tahu harus kemana dulu karena semua tempat pasti masih tutup, ya udah kongkow dulu aja deh di stasiun.

Suasana Stasiun Malang
Suasana Stasiun Malang di Pagi Hari

Fajar pun menyingsing, stasiun Malang mulai menunjukkan taji-tajinya. Begitu Tempe disuguhkan pemandangan dari stasiun yang keren banget, ia langsung tahu akan pengalaman indah yang akan menyambutnya. Dari kejauhan, ada gunung yang menyapa, tinggi sekali. Tapi ga tau gunung apa itu, yang penting, kita nikmati aja deh kemegahannya.

Mungkin dengan alasan itu juga, ada sekelompok pendaki gunung yang lagi ngetem juga di stasiun bareng-bareng mereka. Ransel yang jauh lebih besar, penutup kepala, dan celana pendek. Ditemani sepatu gunung, udah pasti banget ni orang-orang mau mendaki. Semangat bro bro sekalian!

Setelah menunggu sekitar 3 jam, mereka memutuskan untuk mampir ke tempat makan kecil dalam stasiun itu, kalau gak salah namanya bu tawar, sebelum melanjutkan perjalanan. Sambil menikmati segelas minuman hangat, membicarakan rencana hari ini, mereka akhirnya siap untung langsung menaklukan Kota Batu, atau… ditaklukan oleh Kota Batu?

Segelas teh hangat
Bahagia ga sih kalau bisa ngaso kayak gini tiap pagi?

Menuju Kota Batu!

Ada banyak sumber yang memberitahukan dengan lengkap tentang cara menuju Batu dari stasiun Malang. Salah satu yang paling menginspirasi adalah blog yang satu ini. Disitu lengkap dijelaskan tentang jalan-jalan ke Batu juga, beserta biaya-biayanya, dikasih bonus pula curhatan dari penulisnya yang sangat menghibur. Bisa dibandingkan, mungkin ada beberapa hal yang berbeda, kayaknya biaya yang dikeluarkan Tempe, Koya, dan Mihe juga lebih besar deh… aw aw aw.. nasseeebb.

Intinya, dari stasiun bisa ambil angkot AL atau ADL. Angkot yang digunakan kali ini adalah ADL. Angkotnya sendiri tidak lewat persis di depan stasiun, tapi nyebrang dulu. Banyak angkot yang sedang ngetem di sisi kiri jalan, tulisan jurusan masing-masing sangat jelas kok. Jadi, sistem di Malang ini, tiap angkot mendapatkan namanya dari masing-masing huruf pertama untuk setiap terminal yang mereka lalui. Sebagai contoh AL berarti Arjosari-Landungsari, sementara ADL berarti Arjosari-Dinoyo-Landungsari. Cukup informatif. Oh ya, untuk pergi ke batu, dari stasiun harus pergi dulu ke terminal landungsari. Biayanya tertulis di pintu angkot, Rp. 3500,-, tapi mereka memutuskan untuk memberikan Rp. 5.000,- per orang karena selama perjalanan angkotnya cuma diisi mereka doank, jadi semacam charter gitu.

Plang Jalan di Malang
Kenapa kota lain ga dibuat begini juga?

Selain sistem angkot yang unik, ada satu hal lagi di Malang yang patut dicontoh oleh kota-kota lain. Kalau plang jalan yang menunjukkan nama jalan sih, udah biasa ya. Nah, di Malang ini,  setiap penanda nama jalan disertai juga sama kode pos-nya! Berapa kali sih teman-teman lupa sama kode pos tempat tinggal masing-masing? Atau bahkan sama sekali ga tau? Dengan menuliskannya pada setiap jalan, pastinya orang jadi lebih kenal kan sama alamat masing-masing. Solutif!

Oh ya, kalau di Jogja, penanda jalannya juga unik. Selain nama jalan ditulis dalam alfabet biasa, dibawahnya disertai juga dengan aksara hanacaraka-nya. Tapi, kalau sistem seperti itu lebih ke menjaga budaya ya, supaya orang-orang Jogja tetap kenal dan cinta dengan budaya asli daerah mereka, bagus juga sih. Beda dengan menyertakan kode pos, yang mana sangat berguna secara fungsional.

Banyak yang bisa diceritain nih seputar pengamatan selama di Malang. Selain sistem penamaan angkot, penyertaan kode pos, ada satu lagi yang berkesan. Hampir setiap kali naik angkutan umum di Kota Malang, supirnya selalu mengajak ngobrol penumpangnya. Beberapa kali Tempe ditanya mengenai tujuan kepergian, kemudian ditawarkan untuk diantar langsung sekalian kesana. Mungkin terkesan: ah itumah biasa kali, supaya mereka dapet uang gampang aja..

Yah, pertama kali juga Tempe berpikir begitu, tapi ada yang berbeda dari cara mereka mengajak. Sepertinya memang mereka ingin sekali membawa suasana ramah di Kota Malang. Misalnya ketika Tempe menolak tawaran untuk diantarkan langsung ke Batu dari stasiun, supirnya menjawab: santai aja kok kita, Mas. Atau disaat naik angkot dari terminal landungsari ke terminal batu, supirnya juga dengan ramah menawarkan untuk mengantar langsung ke tujuan mereka, yaitu Jawa Timur Park 1.

Belum cukup? Bahkan ketika di Batu nantinya, supir ojek disana pun ramah sekali, menceritakan dengan sabar mengenai serba-serbi Kota Batu dan info-info penting supaya perjalanan di Batu tambah Asik..

Apa sih yang mau coba dikatakan disini?

Kalau mau kota kita dikunjungi oleh turis, bukan cuma objek wisatanya aja yang harus disiapkan, tapi masyarakatnya juga. Punya kota dengan objek wisata yang keren, bersih, bahkan one of a kind, itu belum cukup. Terasa sekali selama di Malang, memang penduduk disini welcome sekali dengan kedatangan turis. Ibarat Malang ini adalah sebuah rumah yang megah, pintunya pun dibuka lebar untuk kedatangan tamu, disuguhkan teh hangat pula di ruang tamunya..

Ternyata bukan cuma udaranya aja yang adem, pikir Tempe. Orang-orangnya juga bikin hati dan kepala adeeem beneeer..

rute dari stasiun malang ke batu: naik AL/ADL dari depan stasiun, begitu sampai di landungsari naik angkot yang warna pink jurusan batu. Masing-masing Rp. 3.500,- / orang tarifnya.

Kayaknya salah jalan, deh?

Setelah sampai di Terminal Batu, mereka bertiga memutuskan untuk berjalan ke tujuan pertama di Kota Batu: Jawa Timur Park 1. Menurut referensi dari Supir Angkot Pink, jarak dari terminal ke Jatim Park cuma sekitar 600m. Yuk ah, udah ga sabar.

Setapak demi setapak..

10 langkah…

100 langkah…

600 meter sih.. 600 meter.. tapi jalannya jangan nanjak juga kalee!

Menyusuri jl. Dewi Sartika, sejauh mata memandang yang terlihat cuma mobil-mobil lalu lalang, pertokoan, ga ada petunjuk sama sekali. Mana sih? Kok ga ada tanda-tanda keberadaan theme park?

Oh ya, mungkin pembaca bertanya kenapa Jawa Timur Park Satu, emang ada berapa sih? Jawabannya: ada 2! Nah, kenapa mereka bertiga memutuskan untuk mengunjungi Jatim Park 1 daripada yang 2? Jadi, Jatim Park 2 itu terkenal dengan Batu Secret Zoo-nya, kebun binatang. Sama sekali tidak bermaksud merendahkan, tapi menurut mereka bertiga.. Kebun binatang? Apaan sih yang bisa dilihat selain, lagi-lagi, binatang? Makanya diputuskan untuk perjalanan kali ini lebih baik ke Jatim Park 1 dulu saja, berhubung sedang berpacu dengan waktu.

Setelah sekitar berjalan penuh harapan selama kira-kira 10 menit, barulah terlihat sebuah gardu yang bertuliskan Jawa Timur Park 1. Hore! Udah mau nyampe, nih…

Iyakah udah mau sampai?

Di jalan yang ditunjuk oleh gardu tersebut, cuma ada keraguan. Ini jalan kecil banget, semacam pedesaan gitu, mana mungkin ada theme park disini? Tempe udah menyatakan bahwa ini pasti salah jalan, Koya udah menyerah dan malas memikirkan jalan, sementara Mihe adalah satu-satunya yang yakin ada kebenaran di ujung jalan ini. Berhubung Mihe adalah PJ daripada perjalanan di Kota Malang, Tempe dan Koya mengikutinya juga walau dengan setengah hati. Semakin lama, semakin kecil kemungkinan akan kebenaran: jalan yang semakin sempit, makin menanjak, dan sawah mulai bermunculan di sisi jalan…

Tapi, tebak apa yang terjadi?

Lagi-lagi Mihe benar! Walaupun jalan kaki cukup jauh dan dalam, ternyata Jatim Park 1 memang berada di lokasi yang ditunjukkan Mihe. Hormat dulu deh sama Mihe, sang penunjuk jalan kebenaran…

Loket Jatim Park 1
Akhirnya tiba juga! Tapi kok, loketnya belum buka?

Begitu menyadari bahwa Jatim Park 1 ini dibentuk di tengah-tengah pedesaan, lagi-lagi Tempe mengalami pencerahan. Setelah disuguhi ke-unyu-an masyarakat Malang, sekarang ia mulai menyadari bahwa meletakkan theme park segede ini di tengah desa itu bukan tanpa alasan. Jelas sekali pembangunnya berkeingininan untuk membantu kemaslahatan orang banyak, tidak cuma meraup keuntungan sebesar-besarnya. Dengan membangun objek wisata di tengah pedesaan, pasti masyarakat sekitarnya juga kena imbasnya kan? Membuka lapangan pekerjaan baru, mendatangkan calon pembeli, meningkatkan pendapatan daerah, dan berbagai dampak positif lainnya..

wah.. menggugah banget!

Perjalanan di Kota Malang ini mulai terasa seperti teka-teki, satu demi satu petunjuk didapatkan dengan mengamati keadaan sekitar dan mencoba mendapatkan maknanya.

Memang, ada udang di balik Batu…

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s