Menuju Jawa: Mengasah Hati, Meraut Semangat

(tulisan ini adalah sekeping bagian dari perjalanan 1 minggu keliling Jawa berjudul Keliling By Request)

Mari memulai kisah panjang ini dengan kutipan berikut:

Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal.

Yap, post pertama ini akan berbicara mengenai perencanaan yang dilakukan sebelum eksekusi perjalanan sesungguhnya. Jalan-jalan santai bukan berarti tanpa persiapan, kan? Justru karena Tempe, Mihe, dan Koya sendiri memiliki jam terbang yang tidak banyak perihal travelling, mereka mencoba mendaftarkan semuanya mulai dari A sampai Z.

Sebelum merencanakan semuanya, dimulai dulu dari terbesitnya ide ini dari kepala si Tempe. Awalnya, tujuan perjalanan yang diinginkan adalah Karimun Jawa yang lagi nge-hip abis dikalangan anak muda jaman sekarang. Beberapa mengusulkan juga Lombok, dengan si Gili-nya yang terkenal. Jika dilihat-lihat, pergi ke kedua tempat itu memang pasti niatnya adalah refreshing, alias melepas penat. Akhirnya Tempe mendelegasikan tugas mengajak kengkawan yang lain kepada Koya, berhubung dia lebih heboh kalau urusan seperti ini.

Namun sayang seribu sayang, entah kenapa pada waktu si Koya menanyakan kesanggupan teman-teman yang lain untuk merealisasikan rencana Karjaw dan Lombok itu, usahanya bertepuk sebelah tangan. Kasihan si Koya, ajakannya hanya dibalas dengan berbagai alasan-alasan. Ya sudah, sambil puk-puk si Koya, Tempe pun hanya bisa senyum-senyum saja. Untungnya di kala mereka berdua gundah gulana tidak ada yang mau menemani, ada satu orang yang dengan begitu bersemangat juga menyatakan siap ikutan. Siapalagi kalau bukan Mihe. Jadilah, pada ajakan tersebut, terbentuk kelompok sangat sederhana yang terdiri dari 3 orang ini.

Pembicaraan intensif mulai terjadi diantara mereka bertiga. Walau lebih banyak obrolan ga berguna daripada yang sesungguhnya dibutuhkan, tapi akhirnya ada kesimpulan awal: Karjaw mahal amat yak kalau cuma bertigaan doank. Ini tidak bisa dibiarkan, pikir Tempe. Sementara ide ini hampir menguap bersama dengan obrolan yang semakin tidak jelas arahnya kemana, Tempe mengusulkan kepada Koya untuk mengubah lajuan perjalanan menjadi berkeliling Jawa. Seketika itu juga Koya menyanggupi. Mau gimana lagi, emang si Koya ini hidupnya udah kosong banget kayaknya, diajak berangkat detik itu juga pun sepertinya dia mau-mau aja.

Bagaimana dengan Mihe? Tempe punya keyakinan penuh bahwa Mihe pun pasti juga bersedia, berhubung memang mereka bertiga sudah mematok tanggal 19 Agustus untuk harus pergi, kemana kek…

Dan tebakan itupun tepat, secara resmi tanpa perdebatan panjang, Jawa menjadi tujuan baru mereka bertiga. Selain itu, untuk detil objek apa saja yang ingin dikunjungi pun diputuskan melalui permintaan masing-masing orang yang ingin ikutan. Semuanya atas dasar rasa ingin tahu. Bagaimana kesananya, apa yang harus disiapkan, berapa biayanya, ah nanti dulu lah. Intinya, mereka bertiga mencoba mendaftar kota-kota apa saja yang ingin dikunjungi. Lagi-lagi melalui sekumpulan pembicaraan yang jika dipilah-pilah akan lebih banyak “hahaha”, “wkwkwk”, atau “awkakwka” daripada pertimbangan kota-kota di Pulau Jawa.

Kesimpulan mereka bertiga, daftar kota beserta urutannya yang akan dikunjungi adalah:

Jogjakarta → Solo Malang Surabaya Semarang

dengan durasi rencana awal 20 – 26 Agustus, sepertinya 5 kota sudah terlihat cukup.

Jogjakarta

Kenapa memulai pada tanggal 20 Agustus? Berdasarkan riset yang dilakukan, beberapa museum yang ingin dikunjungi di Jogjakarta ternyata tutup pada hari Senin, sehingga lebih baik kalau Jogjakarta dikunjungi pada Hari Selasa, yang mana adalah tanggal 20 Agustus 2013. Selain museum, planning untuk Jogjakarta tergolong mudah, berhubung banyak objek wisata yang bisa dikunjungi. Beberapa preferensi awal yang muncul adalah: keraton, beringin, dan prambanan.

Kenapa tidak ke Borobudur? 

Sederhana saja, Borobudur itu salah satu objek wisata yang tergolong amat wajib dikunjungi dan sepertinya perlu waktu lebih dari 1 hari untuk bisa menikmatinya dengan baik, sayangnya dengan jadwal padat ‘cem artis, mereka bertiga memutuskan untuk meninggalkan Borobudur terlebih dahulu pada kesempatan kali ini (hiks, bye bye).

Tapi, kenapa ke Prambanan?

Berbeda dengan Borobudur, Koya menemukan bahwa Prambanan memiliki akses yang jauh lebih mudah, berkat suatu transportasi umum di kota Jogja yang bernama Jogja Trans. Jadi, mengunjungi Prambanan terasa semudah membalik telapak kaki.

Berarti, Jogjakarta akan diisi dengan museum, keraton, dan prambanan.

Solo

Kemudian mereka bertiga melanjutkan perencanaan Kota Solo. Kenapa Solo dipilih? Alasan pertama, tidak bisa dipungkiri, sepak terjang Bapak Gubernur yang sekarang naik pangkat di Jakarta mengundang rasa penasaran mendalam dari Tempe dan Koya yang kebetulan memang berdomisili di Ibukota. Apakah Solo overrated? Dengan media yang mengagung-agungkan karya Bapak Joko Widodo di kota yang punya nama lain Surakarta ini?

Alasan kedua mengunjungi Solo, mungkin alasan yang paling penting dari semua alasan yang ada, keinginan si Tempe untuk foto di Stasiun Balapan! Siapa sih yang engga tau lagu terkenal neng setasiun balapan, kuto solo seng dadi kenangan itu? Selama ini kalau menyanyikan lagu itu terasa belum sah, berhubung mata ini belum pernah lihat Balapan itu sendiri.

Nah, di Solo sendiri kebetulan dekat dengan wisata alam yang terkenal indah pula, yaitu tawangmangu, kaki gunung lawu. Buat yang belum tahu, air terjun disini, air terjun grojogan sewu, merupakan objek wisata yang sangat terkenal. Oke, objek yang satu ini masuk daftar yang ingin dikunjungi.

Terakhir, sebuah gebrakan menarik yang juga terkenal dan anehnya cuma ada di Solo, bus werkudara alias bis tingkat khusus pariwisata. Seperti apa sih? Apakah betul-betul berjalan dengan baik? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

Dengan begitu, rencana di kota Solo adalah keliling kota, stasiun balapan, tawangmangu, dan bus werkudara.

Malang

Mata mereka bertiga langsung tertuju pada wisata Kota Batu yang katanya punya theme park lebih oke daripada ancol. Awalnya, niat ke Malang sama sekali bukan karena ingin mengunjungi Kota Batu. Tapi telisik demi telisik, ternyata memang Malang merupakan kota yang sama sekali tidak malang, mungkin harusnya diubah namanya menjadi Kota Untung. Melihat foto-foto orang di blog masing-masing, air liur menetes. Keren botz, kakak!

Langsung saja diputuskan bahwa Kota Batu dengan Jawa Timur Park dan Batu Night Spectacular yang baru dikenal ini adalah tujuan awal begitu tiba di Kota Malang.

Selain mengunjungi Batu, ada juga permintaan untuk menjelajah Kota Malang itu sendiri. Salah satu kutipan dari berbagai sumber menyebutkan

Belum ke Malang kalau belum ke Toko Oen.

Siapa pula Pak Oen ini? Bacanya Oen apa Un, sih? Ya udah, hajar aja deh masukin ke dalam daftar kunjungan. Toko es krim yang satu ini nantinya terbukti menggoyang lidah dan mengguncang nalar Tempe, Mihe, dan Koya. Untung letaknya pun berdekatan dengan Alun-alun Kota Malang, jadi sekalian ingin tahu seperti apa sih alun-alunnya?

Di kota yang tidak begitu malang ini, objek wisata yang membuat penasaran adalah Jatim Park, BNS, dan Toko Oen beserta alun-alun kota di dekatnya.

Surabaya

Tidak perlu panjang-panjang untuk kota satu ini. Mereka bertiga langsung menunjukkan rasa ketertarikan pada satu objek dan satu objek saja, sekaligus alasan utama Surabaya beruntung untuk disinggahi: Jembatan Suramadu! Selain itu, info mengenai kota ini begitu sedikit sehingga sulit menentukan objek lain yang mampu membuat penasaran.

Semarang

Dari semua kota yang ada di Indonesia, Semarang punya 1 objek yang sangat membuat Mihe penasaran: Pecinan Semarang. Selidik punya selidik, biasanya pecinan yang satu ini disebut juga sebagai Semawis. Tempe dan Koya tidak sanggup mengatasi keinginan Mihe yang sangat menggebu-gebu untuk pergi ke Pecinan yang satu ini, terkenal karena ramai dan besar. Oke, oke, kita kesana kok.

Selain Pecinan, objek lain sebetulnya hanya tambahan-tambahan saja dari berbagai website travelling kota Semarang. Misalnya Lawang Sewu dan Sam Poo Kong.

Pantai Marina juga menjadi pilihan tambahan untuk dikunjungi, karena sedikit sekali kalau hanya pecinan, lawang sewu, dan sam poo kong. Ya sudah, sekalian menjadi objek wisata alam lain. Ekspektasi mereka bertiga tidak banyak untuk pantai yang satu ini.

Menyatukan Semuanya

Dengan demikian, setiap rasa penasaran Tempe, Koya, dan Mihe harusnya akan terpenuhi. Sekarang waktunya menentukan kapan, apa, dan bagaimana. Ada beberapa poin penting yang ditemukan selama proses pembentukan rencana besar ini, bahkan begitu mengubah rencana awal:

    1. Bis werkudara di solo hanya beroperasi pada weekend, Sabtu dan Minggu saja.
    2. Pecinan Semarang hanya dibuka pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.
    3. Harga tiket yang entah kenapa begitu mahal untuk keberangkatan dari dan ke stasiun di Semarang

Solusi problem 1 dan 2 adalah perubahan urutan jadwal. Jika sebelumnya dari Jogja akan menuju Solo terlebih dahulu, berubah menjadi langsung menuju Malang. Solo akan dikunjungi setelah Surabaya, sebelum menuju Semarang. Sementara kota lain dikunjungi menggunakan kereta api, Surabaya Solo Semarang akan ditempuh menggunakan bus karena harga yang lebih bersahabat. Selain itu, bus dari Surabaya ke Semarang biasanya memang melalui rute Solo terlebih dahulu.

Solusi problem 3, selain memutuskan untuk mengunjungi Semarang menggunakan bus, perjalanan pulang dari Semarang akan disisipi oleh kunjungan ke kota lain dulu. Kenapa tidak bus juga untuk pulang? Ada 2 alasan:

  1. Jauh booottzzz dari Semarang untuk pulang. Kalau naik bus bisa keburu tepar berhubung perjalanan pulang itu sudah pasti kondisi badan paling kritis.
  2. Jalur utara kereta api di Jawa pun terkenal karena keindahan pemandangannya, bahkan banyak yang menyarankan untuk menikmatinya di kala langit masih cerah.

Oke, pokoknya harus pulang naik kereta!

Lalu kota mana yang beruntung untuk disinggahi? Cirebon adalah jawabannya. Kenapa Cirebon? Tidak ada alasan khusus sebetulnya. Mau tahu banget? Oke, kalau ditarik garis lurus dari Semarang ke Bandung, tujuan pulang, ditengah-tengahnya itu kota Cirebon.

Namun, lagi-lagi, ada perubahan jalur pulang, dari awalnya Cirebon Bandung menjadi Cirebon Jakarta. Sederhana, soalnya lebih murah tiketnya, dan diantara mereka bertiga, Tempe dan Koya memang pulang ke Jakarta, hanya Mihe yang menuju Bandung.

Jadi pada akhirnya jalur yang disepakati adalah:

Bandung Jogja Malang Surabaya Solo Semarang Cirebon Jakarta

dan durasi perjalanan menjadi 19 – 27 Agustus 2013.

Nah, cukup berbelit-belit ya. Sebetulnya masih banyak lagi perbincangan, diskusi, poin-poin penting dari masing-masing kota, tapi akan dibahas pelan-pelan saja di cerita mengenai kota tersebut. Kalau dibahas sekarang bisa dibagi menjadi 10 part sendiri ini perencanaannya. Baiklah,

gimana sih akhirnya rencana itu dijalankan?

Apakah semuanya sesuai rencana?

Pokoknya..

Disini gunung, disana gunung,

di tengah-tengahnya Pulau Jawa!

Planningnya bingung, lah dalah aktornya juga canggung,

yang penting jalan-jalan penuh ketawa!

6 pemikiran pada “Menuju Jawa: Mengasah Hati, Meraut Semangat

      1. kemaren pas promo si PT KAI juga dapet tiket bandung-surabaya murah pas 17 agustus dan surabaya-bandung pas 19 agustus jadinya maen ke jatim park 2, kalo ke jogja solo mah impulsif sewaktu di kereta pulang, sekalian ngunjungin temen di jogja-solo

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s