Keliling By Request: Jawa dalam 1 minggu – Prolog

Spending on experiences instead of possessions

Kalimat yang begitu sederhana, namun sungguh mengguggah maknanya. Selama ini dalam benak selalu ada pemikiran semacam ini, walau tak tahu bagaimana membahasakannya. Begitu mendengar kalimat tersebut, sungguh pas terasa. Betapa tidak? Pasti kita sudah pernah dengar juga kata-kata yang lebih kurang seperti ini bunyinya:

Kita ini terlalu sibuk melakukan hal yang tidak menyenangkan, untuk membeli barang yang tidak perlu, demi memamerkannya kepada orang yang tidak kita sukai

Banyak orang berdebat mengenai alasan manusia diciptakan, di kala orang lain menghabiskan waktu tersebut untuk membahagiakan diri sendiri dan orang yang mereka cintai. Seolah berdebat mengenai umpan apa yang harus digunakan saat memancing, sementara disebelahmu sudah mendapatkan banyak tangkapan. Punya mata, tapi tidak tahu apa yang harus dilihat.

Tergerak juga oleh keinginan menghabiskan waktu dan uang yang dimiliki melalui pengalaman yang membahagiakan, alih-alih untuk membeli kepemilikan yang akhirnya duniawi semata, sebuah ide sederhana mencuat.

Sudah 20 tahun kuhabiskan waktu hidup di sebuah pulau yang bernama Jawa. Bagaimanapun, apa pengalamanku di pulau ini? 20 tahun waktu yang begitu lama, tapi kalau ini fase pacaran, PDKT pun tidak, manalagi intim dengan pulau teramai di Indonesia ini?

Tak hentinya bersyukur kepadaNya, untungnya ada sejumlah teman yang nekat menemani keinginan untuk berjalan-jalan berkeliling di pulau Jawa ini. Perjalanan ini sama sekali bukan karena keinginan untuk refreshing, semuanya disebabkan oleh rasa penasaran yang menggebu-gebu. Oleh sebab itu, tempat yang dikunjungi mungkin akan mengernyitkan jidat pembaca.

kok ga ke x sih? ngapain malah ke x? dan lain sebagainya.

Yap, wajar aja kok. Memang perjalanan ini, seperti sudah ditekankan sebelumnya, merupakan perjalanan dengan bekal penasaran dan kesediaan kaki kami untuk menemani rasa penasaran tersebut. Nah, karena itu pun, judul perjalanan ini adalah keliling by request. Diantara peserta-pesertanya, kami mengumpulkan: penasaran sama apa sih? Jadilah semua rencana dibuat dengan fondasi permintaan-permintaan yang diajukan.

Lalu, kenapa kok ingin sekali berbagi mengenai perjalanan yang akhirnya dilakukan dari tanggal 19 – 27 Agustus 2013 ini? Sombong? Yah, ada sih sedikit. Tapi lebih karena pengalaman saat mencari-cari referensi untuk perjalanan ini sendiri, alamak sedikit sekali. Walau tidak banyak info yang bisa kami berikan, paling tidak kami coba berikan tambahan-tambahan yang niscaya akan sangat berguna. Sekaligus juga, rasa terima kasih kepada referensi yang akhirnya menyelamatkan kami dari kegalauan mendalam, perjalanan tanpa arah. Semoga post-post perjalanan ini bisa membantu kalian yang ingin membangun pengalaman di pulau Jawa juga. Buat yang awalnya sama sekali ga tertarik, doa penulis supaya inspirasi bisa muncul dari tulisan-tulisan ini.

Nah, sebelum memulai satu persatu post perjalanan, ada baiknya diperkenalkan terlebih dahulu aktor-aktor yang akan terlibat.

Tempe
Aktor pertama keliling by request – Si Tempe

Pertama, ada si penulis, sebut saja si Tempe. Kebetulan pada perjalanan ini berhasil menjadi pemenang jumlah baju bawaan terbanyak yaitu sebanyak 4 baju. Pas disadari, malah tas penuh sama handuk (yang ga banyak dipake, mandi aja kalo emang lagi bisa kok). Tersangka utama yang mencoba mengumpulkan aktor lain jatuh dalam lubang 24×8 jam bersama dengannya, walau kemudian pasti mereka bersyukur (yekali).

Mihe
Aktor kedua keliling by request – Si Mihe

Kemudian kita punya cover boy sejati, si paling jago urusan pose pas lagi foto. Hobinya minum kopi. Tapi, daripada dipanggil cover boy atau kopi, kita akan memanggilnya dengan sebutan Mihe. Menganut sejati Keluarga Berencana (KB) dengan membuktikan hanya membawa 2 baju cukup. Padahal perjalanan yang akan dihadapi sepanjang 8 hari! Tugas utamanya pada perjalanan ini sebagai penunjuk jalan, sementara 2 aktor lainnya bertanggungjawab menjaga mood-nya dengan terus menerus memastikan secercah senyum di wajahnya saat memimpin arah.

Si Koya
Aktor ketiga keliling by request – Si Koya

Kalau sebelumnya kita punya pemilik pose terbaik sepanjang perjalanan, yang satu ini memegang gelar pemasang muka aneh (mulai sekarang disebut mukee) dalam setiap foto-fotonya. Kerjaannya cuma 2: Tidur sama makan gorengan. Ingin membuktikan rambutnya ga berketombe dengan pakaian yang ia bawa semuanya berwarna hitam! Belakangan diketahui bahwa setelah 5 hari perjalanan dipenuhi semangat dan badan sehat kuat, sisa perjalanan tiba-tiba jadi penyakitan, sehingga disimpulkan bahwa sebenarnya Si Koya ini harus cek onderdil setiap 5 hari, keburu soak kalau kelamaan.

Kami bertiga sama sekali bukan traveller atau backpacker sejati, seperti banyak orang yang mengaku-ngaku demikian. Tidak apalah, perjalanan ini ga segila yang mereka dengung-dengungkan juga. Membuktikan diri sebagai traveller dengan seminim mungkin menggunakan biaya, bahkan tidak memakai uang sama sekali dalam perjalanan. Buat kami, kenyamanan termasuk faktor penting, jadi beberapa kali mungkin kami tetap menggelontorkan sejumlah uang, paling tidak agar badan tetap sehat dan fit untuk menghadapi jadwal padat cem artis. Ah, paling tidak, masih lebih baik daripada mengaku traveller tapi nyata-nya tidak pernah kemana-mana, kan?

Minim pengalaman berjalan-jalan random, senjata kami cuma kerjasama yang baik antara kami bertiga, dan untungnya senjata kami tersebut terbukti sangat ampuh. Bahan bakar kami adalah guyonan selama perjalanan untuk memompa sepasang kaki supaya kuat berjalan berkilo-kilometer.

Cukup deh prolog-nya, sekarang waktunya mulai bercerita. Supaya tetap bisa berkisah dengan detil namun tidak membosankan, cerita akan dibagi menjadi beberapa bagian dan ditulis satu per satu, semoga bisa diselesaikan 1 hari 1 tulisan.

Akhir kata: ndang gek mlaku, cah!

Menuju Jawa: Mengasah hati, meraut semangat

Bandung: Semua ada awalnya

Jogjakarta – Part 1: Masa lalu yang belum berlalu

Jogjakarta – Part 2: Dengan mata tertutup

Jogjakarta – Part 3: Jatuh cinta pada gigitan pertama

Malang – Part 1: Udang di balik Batu

Malang – Part 2: Belajar, belajar, dan belajar!

Malang – Part 3: Batu yang lebih berkilau daripada Berlian

Surabaya – Part 1: Nasi, kuah, dan…

Surabaya – Part 2: Mana nih yang ngaku-ngaku kota kembang?

Solo – Part 1Tawang… apa?

Solo – Part 2: We are so happy

Semarang: Cinta satu malam!

Cirebon: Kota di atas awan

Jakarta: Namun tak semua punya akhir – Epilog + Rekap Biaya

Iklan

3 pemikiran pada “Keliling By Request: Jawa dalam 1 minggu – Prolog

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s