Volume Gelas

Perasaan yang muncul setelah lama tidak menulis: greget.

Inspirasi menumpuk dalam kepala, beberapa sih bisa ditahan. Sisanya, keburu menghilang sebelum ditumpahkan.

Ada satu yang begitu ingin dibagikan: ini tentang gelas, kekayaan, dan rejeki.

Bayangkan dirimu sedang duduk di samping meja dengan sebuah gelas di atasnya,

kemudian kamu mulai minum air dalam gelas tersebut, glek demi glek. Beberapa saat kemudian seseorang datang mengisi gelasmu. Kamu minum lagi, diisi lagi, dan seterusnya. Tetapi ada ketidakaturan dari waktu kedatangan si pengisi air ke dalam gelas, kadang-kadang langsung diisi, kadang-kadang kamu harus menunggu lama. Terkadang penuh, terkadang tidak. Terkadang sampai meluap.

Kira-kira, kamu akan tetap dengan tenang menghabiskan air dalam gelas itu? Atau menumpuk terlebih dahulu sampai penuh, dan kamu minum hanya untuk menyediakan tempat bagi si pengisi air?

Kenapa analogi ini disampaikan? Coba bayangkan gelas itu sebagai dirimu, dan air adalah rejekimu. Pengisi air? Apapun yang memberikan rejeki padamu sesuai kepercayaanmu.

Poin pertama, setiap orang punya kapasitas masing-masing, bagaikan volume dari sebuah gelas. Kita selalu ingin mendapatkan sebanyak mungkin rejeki, tapi pada akhirnya rejeki yang berlebihan cuma akan tumpah dan jadi tidak berguna.

Poin kedua, mungkin kamu sayang dengan air yang ada dalam gelas. Tapi siapa bilang cuma kamu yang boleh minum dari gelasmu? Ini cuma masalah indikasi saja. Percayalah, buat apa pengisi air datang jika air dalam gelasmu terus menerus penuh? Bukankah indah kalau orang lain pun, mungkin mereka yang sedang tidak didatangi pengisi air dalam waktu lama, bisa ikut merasakan segarnya air dalam gelasmu? Tulus, pemberianmu, tanpa bermaksud berjaga-jaga ketika suatu saat kamu haus lalu kamu boleh minta balasan dari mereka.

Poin ketiga, kenapa harus terus menerus menjaga gelas supaya terus penuh. Habiskan! Bayangkan reaksi pengisi air ketika dia melihatmu terus menerus menghabiskan air dalam gelasmu. Tetapi minumlah untuk diri sendiri hanya saat kita memang haus, atau kita akan kembung. Sisanya? Berikan kepada mereka yang tidak seberuntung kita. Atau, mereka yang haus. Suatu saat, percayalah, pengisi air akan melihat betapa mulianya gelas itu di tanganmu, yang terus menerus habis, dan memberikanmu gelas yang lebih besar. Apa salahnya memberikanmu gelas yang dapat menampung lebih banyak air, toh kamu membantu pekerjaan sang pengisi air? Tapi jika terus menerus dihabiskan hanya untuk dirimu sendiri, kamu berakhir kehausan sendirian.

Intinya, untuk apa menumpuk kekayaan melebihi apa yang kita butuhkan? Dihabiskan untuk diri sendiri: kembung jadinya. Disimpan untuk diri sendiri: statis jadinya. Volume gelasmu ya akan segitu saja. Air dalam gelasmu pada akhirnya ya untukmu saja.

kekayaan tidak terletak pada berapa banyak air dalam gelasmu, tapi seberapa bermanfaat air yang dituangkan ke dalam gelasmu. Mengenai keadaan air dalam gelasmu 5 menit lagi, 2 jam lagi, besok, minggu depan, atau tahun depan, percayalah bahwa pengisi air selalu melakukan tugasnya dengan baik.

spend enough, give more.

Iklan

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s