Lexical, Syntactic, Semantic – sudah sampai mana?

Jarang-jarang menulis di siang hari,

takut inspirasinya menguap setelah dapat saat mandi.

Tulisan ini mencoba mengolaborasikan salah satu materi kuliah yang saya suka dengan kehidupan, yang juga saya suka.

Apa itu?

Dalam dunia pengolahan bahasa natural (biasanya suka disebut NLP-natural language processing), dikenal 3 tingkatan metode pengolahan,

tingkat paling rendah, karena paling sederhana diimplementasikan adalah lexical,

kemudian hadir syntactic,

dan paling sulit, biasanya kalau ada orang yang mengatakan bahwa pengolahan yang ia lakukan menggunakan metode ini, orang yang mengerti akan mengatakan “wow” dalam kepalanya, yaitu semantic.

Tidak perlu membahas satu persatu, karena saya sendiri juga belum sepenuhnya mengerti maksud dan perbedaan masing-masing tingkatan, tapi ada yang lebih menarik: ternyata tingkatan ini juga berlaku tentang bagaimana kita memaknai hidup.

Pertama, pada awal kehidupan kita, kita selalu mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan sekitar kita. Ketika sekolah, kita belajar dari orang lain, dari buku yang ditulis orang lain, tentang sejarah, apa yang terjadi sebelum kita. Itulah mengolah hidup pada tingkatan lexical, kita mempunyai sebuah referensi mengenai apa saja yang perlu dilakukan di dunia ini, kemudian melakukannya tanpa peduli perihal lain; hanya peduli bahwa tindakan tersebut adalah wajar. Pada NLP dikenal bahwa lexical biasanya mengolah pada level kata, sangat detail. Begitu juga dengan pada kehidupan, tingkatan ini hanya melihat tindakan satu per satu. Kita bisa mendapatkan sesuatu, tapi tidak pernah sesuatu yang besar.

Setelah melihat semakin banyak pola dalam kehidupan, kita jadi tahu dan mulai peduli dengan apa yang kita lakukan. Kepala kita mulai memaknai tindakan dalam hidup sebagai siapa, melakukan apa, kepada siapa, dimana, kapan, dsb. Secara sederhana, itulah mengolah hidup pada tingkatan syntactic. Tingkatan ini, sedikit lebih tinggi daripada lexical, pada NLP mengolah di level kalimat. Kita berhasil mendapatkan yang lebih besar, tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Kelemahannya, setiap tindakan memiliki akhir (bagaikan kalimat yang selalu diakhiri dengan titik/tanda tanya/tanda seru), kemudian kita memulai tindakan yang lain lagi, yang tidak berhubungan dengan tindakan sebelumnya. Lebih baik, tapi tak cukup baik.

Sampailah pada tingkat semantic. “wooow”. Mungkin kalian yang pernah mendengar artinya sudah menebak tingkatan ini seperti apa. Inilah ketika kita mulai melihat bahwa mengolah hidup per tindakan, hanya mengetahui keterhubungannya, tidak cukup. Ada level paling tinggi yang tidak bisa dibatasi dengan tanda baca, biasanya dikenal bahwa semantic memaknai satu dokumen penuh. Apa pengaruh tindakan hari ini pada tujuan hidup kita? Apa makna yang ingin disampaikan? Dan pertanyaan paling penting: kenapa? Seperti halnya pada NLP, bahkan kita, sebagai yang menjalankan, belum tentu tahu bagaimana dan apa jawaban dari pertanyaan fundamental itu. Tapi, kita sendirilah yang paling mungkin tahu. Dan begitu kita tahu, hal yang bisa dicapai begitu besarnya, orang akan mengatakan “woooow” dalam kepala mereka.

Bukan menyamakan kehidupan dengan dokumen, tapi memang begitu berbedanya kah? Biasanya hidup dianalogikan sebagai lembaran pada buku, kan? Pada tiap harinya kita diberikan lembaran baru yang putih bersih, walau hanya sedikit yang bersyukur untuk itu. Yah, pilihan selalu ada pada kita, ingin menjalani hidup yang mudah, gunakan metode lexical. Silakan lihat kamus bahasa, dan tulis apa adanya. Atau mulai mengikuti aturan bahasa yang ada, metode syntactic.

Tentu saja, selalu coba untuk memaknai hidup dengan metode semantic. Lama kelamaan, kitalah yang menentukan aturan pada hidup kita. Sewaktu kita sudah bisa mengerti makna utama kehidupan, paling tidak milik kita sendiri, kitalah yang menjadi penulis aturan bagi calon-calon penggiat lexical berikutnya, sedapat mungkin mereka menyadari makna hidup mereka masing-masing juga.

Ketika kita sudah menemukan kuncinya, menemukan bagaimana mengolah kehidupan, apa dan kenapa, maka setiap lembaran akan menjadi inspirasi bagi mereka yang membacanya. Jangan lupa, bagikan pengetahuan kita mengenai pengalaman dalam menemukan semantic kehidupan kita, walau memang semua dokumen punya karakteristik yang berbeda, tapi jangan sampai orang lain melakukan kesalahan yang pernah kita lakukan.

satu dokumen, satu makna utama, sisanya adalah bagaimana menjelaskan makna utama tersebut.

Satu pemikiran pada “Lexical, Syntactic, Semantic – sudah sampai mana?

  1. saya telah mencari maksud 3 kata di atas, sudah banyak situs yang saya baca, tetapi mereka menggunakan bahasa ilmiah yang sulit untuk saya pahami, tapi setelah membaca artikel yang anda tulis, saya jadi memiliki gambaran tentang Lexical, Syntactic, Semantic. memang dalam menyampaikan sesuai kita perlu “mengibaratkan” agar pembaca mampu mencerna artikel yang mereka baca

    terima kasih gan, saya tunggu sharing berikutnya

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s