Tanah Air : Awal Segalanya

Ceritanya ini akan jadi post pertama gw,

sebenernya udah lama sekali ingin membagikan apa yang ada di kepala gw karena tampaknya kepala gw ini penuh sungguh oleh macem-macem hal sementara kapasitasnya sedikit sekali.

Kebetulan menemukan momen tepat untuk membagikan hal pertama yang ada di kepala.

Hari ini tanah air yang kucinta berulang tahun.

Bukan ulang tahunnya yang ingin gw soroti kali ini, tapi kata ‘kucinta’.

Gw ga bisa mengingat kapan pertama kali gw sadar bahwa gw ini seorang warga negara Indonesia tapi menarik juga untuk dilakukan. Pada waktu SD tentu saja seperti kebanyakan orang Indonesia yang cukup beruntung bisa mencicipi bangku sekolah, gw mengenal apa yang namanya negara – negara di dunia. Dulu nama bukunya RPAL dan RPUL, Alam dan Umum. Buku yang ‘Alam’ sih jelas isinya mengenai tumbuh-tumbuhan, gw cukup ingat cover depannya tubuh manusia yang sangat tidak beruntung (baca: dikuliti).

Tapi yang pengen gw soroti adalah yang ‘Umum’.

long story short, gw cukup terkesima melihat berbagai bentuk dan warna yang dimiliki berbagai macam negara. Seinget gw, buku RPUL itu didominasi hitam putih kecuali bagian bendera yang ada warnanya (agak samar-samar antara gw lihat ini di buku RPUL atau buku ATLAS) tapi yang pasti di RPUL ini kelebihannya adalah ada data mengenai negara-negara tersebut, menemani benderanya.

Ngebolak balik halaman itu, baca-baca mengenai berbagai macam negara, membandingkan pendapatan perkapitanya. Gw masih ingat betapa terkagumnya gw sama negara Singapura yang begitu kecil tapi GDPnya kok besar sekali. Umumnya gw mencari-cari negara Asia Tenggara.

Dan disitulah pertama kali pikiran gw tergetar.

Saat halaman buku itu tepat menunjukkan data Indonesia.

Negara yang luar biasa besarnya dengan GDP yang kecil sekali. Pikiran pertama gw adalah betapa sederhananya bendera Indonesia, ga keren gw pikir. Padahal tiap hari Senin sekolah gw itu selalu mengadakan upacara, gw jg inget ga jarang gw berdiri di depan sebagai pemimpin upacara(atau apa ya namanya yang teriak-teriak “siap grak” “hormat grak” “istirahat di tempat grak”, intinya karena suara gw lantang aja dulumakanya disuruh), atau kadang – kadang jadi pembaca pancasila(yang ini paling enak soalnya jatahnya dikit)

Tapi ada 1 tugas yang paling dibenci oleh setiap anak di sekolah gw dulu : Pembaca Pembukaan UUD.

Puanjang bukan main, cape bukan main.

Bahkan kami ngetawain tulisan Preambule dan selalu jadi bahan candaan apakah itu tulisan harus dibaca apa ga.

Tapi tiba-tiba semua anggapan remeh gw itu berubah, hanya dengan melihat bendera Indonesia yang disandingkan dengan bendera-bendera negara lain di buku RPUL.

Saat itulah gw sadar, untuk bisa membuat warna merah di atas putih itu berderet di buku RPUL sama sekali bukan main-main. Gw ga pernah bisa hafal isi pelajaran IPS apalagi Sejarah tapi gw selalu mencoba mengerti sejak saat itu.

Layaknya tanah air yang terus membagikan apa yang ia miliki, gw bertanya pada diri sendiri: betapa sombongnya kalau gw ga melakukan apapun untuk negara ini?

Barulah sejak saat itu, setiap hormat gw, nyanyian Indonesia Raya, dan mengheningkan cipta gw memiliki makna. Tapi gw tau betapa setiap hela nafas ini harus dibayar dengan berkontribusi untuk Indonesia.

Bagaimanapun, ketika dulu gw lihat apa yang selalu gw kenakan setiap hari. Ada warna merah dan putih disana.

Gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s