Istimewa

5D.0: Perulatan Batin

Kapan tepatnya seorang teman berubah menjadi sahabat? Pertanyaan tersebut merupakan salah satu misteri paling membingungkan dari berbagai jenis evolusi yang ada di dunia ini. Bisa jadi ada satu momen tertentu atau kumpulan dari banyak momen. Apakah karena pernah susah dan senang bersama? Entahlah. Momen apapun itu, yang pasti kita setuju betapa berharganya cerita dan sahabat yang kita dapat.

Kata Sind3ntosca, grup musik beranggotakan satu orang yang sekarang ga tahu di mana, persahabatan itu bagaikan kepompong. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah. Persahabatan bagai kepompong, na na na… loh kok jadi nyanyi.

Betapa luar biasanya persahabatan bisa mengubah sekumpulan ulat menjadi kupu-kupu. Yang awalnya nongkrong bareng sambil menggerogoti daun, bisa pindah hinggap di bunga yang indah. Mungkin itu maksudnya yang tak mudah berubah jadi indah. Waktu lagi nongkrong di bunga, sesekali seekor kupu-kupu nyeletuk “eh pu, inget ga dulu kita pernah makan daun singkong bareng enak banget?”. Dijawab oleh sahabatnya, “ingetlah! bukan cuma daun singkongnya yang enak, rendang ama parunya juga mantep!”. Lah, ini kupu-kupu apaan makannya di restoran padang.

Kumpulan cerita berikut ini merupakan sebuah perayaan dari persahabatan lima jentik ulat. Eh, apa sih satuannya ulat? Kan ulat ga punya ekor ya. Ya apapun itu lah, anggap aja lima helai ulat yang dipertemukan secara tidak sengaja. Memang namanya persahabatan itu biasanya ga sengaja sih. Kalau cinta masih ada cinta pada pandangan pertama, kalau sahabat pada pandangan pertama malah aneh. Masa tiba-tiba kita terpikir: ini orang bulu hidungnya kayak bro banget sama bulu ketek gue.

Entah di bagian mana atau cerita yang mana tepatnya ketika lima biji ulat ini berubah menjadi kupu-kupu. Memang waktu berlalu cepat ketika kita asyik menggerogoti daun singkong. Begitu tersadar, masing-masing sudah sibuk mengepakkan sayap dan berterbangan ke arah yang berbeda-beda.

Baca cerita mereka mulai dari sini: Ngegas Penyambung Nyawa

5D.3: Lima Tahap Nestapa

“Selamat! Tepat sekali, pesanan hari ini adalah menu favorit di restoran kami!”

Wiyan tidak bisa menyembunyikan senyum bangganya ketika mendengar kata-kata Mba pelayan Restoran Pizza HUG. Di hadapan Wiyan, Yoyok juga tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Ekspresi eneg. Sudah tiap minggu mendengar kata-kata itu dari mba pelayan, masih aja kebanggaan Wiyan tidak pudar.

Yoyok merasa wajar dengan kelakuan Wiyan. Wiyan adalah teman pertama Yoyok sejak jadi mahasiswa, sekaligus manusia pertama yang menempatkan kompetisi sebagai jalan ninjanya. Apesnya, di antara rombongan anak baru kosan Yoyok, hanya Wiyan yang ternyata sefakultas.

Dari penampakannya, Wiyan memang terlihat seperti anak baik-baik dan tidak ada yang mencurigakan. Rambut dan alis tersisir rapih. Mungkin bulu ketiaknya juga disisir, itupun kalau ga di-waxing. Setelah kenal beberapa minggu, Yoyok menemukan teman barunya ini bagaikan gabungan dari karakter-karakter kartun Doraemon.

Walau tampang seperti Nobita, otaknya encer seperti Dekisugi. Lugunya seperti Sizuka, tapi laganya bagai Suneo: suka pamer barang-barang aneh dan hobinya menertawakan orang lain. Yang paling kentara, sifat ga mau kalahnya mirip Giant. Kompetitif adalah nama belakang Wiyan. Apapun dilombain, makanya dia bangga sekali ketika berhasil mendapat pujian mba pelayan restoran.

“Sampe kapan lu bakal pesen menu yang sama demi dipuji?” Tanya Yoyok ketus berusaha mengakhiri senyum lebar Wiyan yang mulai mengganggu selera makannya.

Lanjutkan membaca “5D.3: Lima Tahap Nestapa”

5D.2: Motor Legendaris

Halo, namaku Tori. Biarpun aku terlihat dekil dan badanku kurus, kemampuanku tidak boleh diremehkan. Coba tanya Johar, kami berdua sudah melalui banyak hal bersama. Mulai dari pengalaman pahit sampai… kayaknya, pahit semua pengalamannya. Biarpun begitu, hobiku tetap sama sampai sekarang, jalan bareng Johar menelusuri Bandung.

Belakangan ini, kita sudah jarang jalan bareng, padahal dulu hampir tiap hari. Mungkin dia sudah mulai lupa. Kini body seksiku sudah mulai usang akibat dicampakkan berhari-hari di kosan. Sedih sih, pengin nangis rasanya. Tapi nanti Johar makin ilfeel sama aku. Terus aku makin dijauhin. Makin cyedih akika… hiks.

Lanjutkan membaca “5D.2: Motor Legendaris”

5D.1: Ngegas Penyambung Nyawa

Dalam sebuah acara ngerjain orang, salah satu tantangan meminta para peserta untuk menelpon salah seorang teman mereka. Tapi harus teman yang paling bisa diandalkan, karena orang tersebut akan ditelepon secara tiba-tiba. Lebih tepatnya dibikin panik. Peserta akan berpura-pura sedang dalam keadaan darurat dan si sahabat mesti segera datang ke lokasi yang diminta tanpa dijelaskan apa-apa. Ga tanggung-tanggung, teleponnya jam 2 pagi. Peserta yang sahabatnya ga datang dalam jangka waktu 30 menit akan kena hukuman.

Kalau ada di posisi peserta, kira-kira siapa yang akan kalian telepon?

Untuk Yoyok, kasus seperti ini bukanlah sekadar skenario dalam acara ngerjain orang. Nyawanya pernah terancam jam 3 pagi dan seorang teman yang beruntung ikut kena imbasnya.

Lanjutkan membaca “5D.1: Ngegas Penyambung Nyawa”

Jaminan Hari Fana

56 begitu spesial belakangan ini. Angka ini disebut di berbagai media massa berulang kali, setiap membahas perubahan baru aturan penarikan iuran Jaminan Hari Tua (JHT) oleh Menaker. Uang yang sebelumnya bisa didapat bahkan ketika mengundurkan diri dari pekerjaan atau di-PHK, kini harus mengendap sampai umur kita mencapai angka magis 56.

Banyak yang protes, terutama kelas pekerja. Sejauh yang saya pahami, argumen yang seringkali dilontarkan adalah urgensi. Ketika baru kehilangan pekerjaan dan belum mendapat yang baru, uang JHT bisa menjadi penyangga sementara. Pemerintah menjawab argumen ini melalui dua poin. Pertama, ada jaminan baru namanya Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) sebagai gantinya. Kedua, bermain epistemologi: namanya aja Jaminan Hari Tua, ya baru bisa diambil saat sudah tua. Menurut saya, semua argumen dan jawaban tersebut salah sasaran. Masalah utama dari JHT adalah sifatnya yang wajib.

Lanjutkan membaca “Jaminan Hari Fana”